Editorial Topic
AI & Data Center

TokenKu.ai Klaim Tak Bisa Intip Data Pengguna

3 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • Hypernet mengeklaim TokenKu.ai tidak menyimpan atau mengintip isi prompt pengguna.
  • Platform hanya mengelola akun, API key, konsumsi token, dan penagihan.
  • Menurut Hypernet, data mengalir langsung menuju server penyedia model AI.
  • Perusahaan tetap perlu memeriksa kebijakan data setiap penyedia model.
  • Hypernet belum mengumumkan hasil audit independen yang membuktikan klaim tersebut.

Hypernet Technologies mengeklaim TokenKu.ai tidak dapat mengintip isi prompt maupun dokumen yang pengguna kirim kepada model kecerdasan buatan. Perusahaan menyebut platform tersebut hanya mengelola konsumsi token, akses pengguna, dan penagihan melalui satu dasbor.

CEO Hypernet Technologies Sudianto Oei menyampaikan klaim tersebut dalam peluncuran TokenKu.ai di Jakarta, Kamis (10/9/2026). Hypernet memperkenalkan layanan ini sebagai gerbang API yang menghubungkan perusahaan dengan lebih dari 120 model AI.

CEO Hypernet Technologies Sudianto Oei

Model tersebut mencakup layanan dari OpenAI, Anthropic, Google, xAI, DeepSeek, hingga Qwen. TokenKu.ai kemudian menyatukan pemakaian seluruh model dalam tagihan berdenominasi rupiah.

TokenKu.ai Hanya Mengelola Konsumsi Token

Sudianto mengatakan TokenKu.ai hanya menghimpun informasi terkait pengelolaan token dan pengguna. Menurut dia, platform tidak menangani aliran data antara aplikasi perusahaan dan server penyedia model AI.

“Yang kami agregat hanya manajemen token pengguna. Aliran datanya langsung masuk ke server masing-masing penyedia model dan tidak melalui server TokenKu.ai. Jadi, kami tidak punya akses untuk mengintip,” kata Sudianto.

AdvertisementIn-Article Banner

Melalui satu dasbor, administrator perusahaan dapat membuat API key untuk setiap pengguna atau ruang kerja. Administrator juga dapat memantau model yang karyawan gunakan, jumlah token yang mereka konsumsi, serta biaya yang muncul.

Fitur tersebut menyasar perusahaan yang ingin mencegah karyawan memakai satu akun AI secara bersama-sama. Perusahaan juga dapat mengendalikan anggaran tanpa harus mengelola banyak akun dan tagihan dari penyedia berbeda.

Situs resmi TokenKu.ai memosisikan layanan ini sebagai gerbang API, bukan paket langganan aplikasi percakapan AI. Pengguna perlu menghubungkan API key TokenKu.ai ke aplikasi atau sistem internal perusahaan.

Data Tetap Masuk ke Penyedia Model AI

Klaim bahwa TokenKu.ai tidak mengintip data tidak menghilangkan seluruh risiko keamanan. Aplikasi pengguna tetap mengirim prompt dan dokumen kepada perusahaan yang mengoperasikan model AI pilihan mereka.

Setiap penyedia dapat menerapkan ketentuan berbeda mengenai penyimpanan data, penggunaan data untuk pelatihan model, lokasi pusat data, dan penghapusan informasi. Karena itu, pelanggan perusahaan tetap perlu memeriksa kontrak, kebijakan privasi, serta perjanjian pemrosesan data setiap penyedia.

Perusahaan juga perlu membatasi jenis informasi yang boleh masuk ke sistem AI. Dokumen pelanggan, rahasia dagang, kode sumber, dan data pribadi memerlukan pengamanan tambahan meski TokenKu.ai tidak menyimpan isi permintaan.

Detail Metadata dan Audit Belum Terungkap

Fungsi pemantauan biaya mengharuskan TokenKu.ai memproses sejumlah metadata penggunaan, setidaknya identitas akun, model pilihan, waktu akses, dan jumlah token. Namun, Hypernet belum memerinci masa penyimpanan metadata tersebut, lokasi penyimpanannya, maupun pihak yang dapat mengaksesnya.

Hypernet juga belum memaparkan hasil audit keamanan independen yang membuktikan klaim bahwa platform tidak dapat melihat atau mencegat konten pengguna. Dengan demikian, publik perlu membaca pernyataan tersebut sebagai klaim perusahaan, bukan kesimpulan audit teknis.

TokenKu.ai dapat membantu perusahaan menekan penggunaan akun bersama dan mengendalikan biaya AI. Namun, satu gerbang juga menciptakan titik kendali baru yang perlu perusahaan awasi. Sebelum mengadopsinya, pelanggan perlu meminta bukti arsitektur keamanan, daftar metadata yang tersimpan, kebijakan retensi, serta tanggung jawab setiap penyedia ketika terjadi kebocoran data.