AI Makin Masif, Baru 10% CEO Indonesia Rasakan Hasil
Ringkasan Cepat
- Hanya 10 persen CEO Indonesia merasakan AI meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya.
- Sebanyak 22 persen CEO mencatat kenaikan pendapatan, sementara 28 persen melihat penghematan biaya dari AI.
- Baru 36 persen perusahaan Indonesia memiliki proses Responsible AI yang formal.
- ManageEngine menilai kompleksitas sistem TI dapat menghambat perusahaan memperoleh manfaat maksimal dari AI.
- ManageEngine menawarkan pendekatan unified IT management untuk menyatukan visibilitas endpoint, jaringan, aplikasi, dan infrastruktur.
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tumbuh pesat di Indonesia, tetapi hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah merasakan dampak finansial secara menyeluruh.
PwC melalui 29th Global CEO Survey 2026 mencatat hanya 10 persen CEO Indonesia yang mengatakan AI telah meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 22 persen melihat peningkatan pendapatan, sedangkan 28 persen mencatat penurunan biaya.
Angka tersebut tertinggal dari Asia Pasifik, dengan 15 persen CEO merasakan kedua manfaat sekaligus, serta rata-rata global sebesar 12 persen.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan tingginya antusiasme terhadap AI di Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat sekitar 80 persen pengguna Indonesia berinteraksi dengan AI setiap hari. Pendapatan aplikasi berbasis AI di Indonesia juga melonjak 127 persen secara tahunan.
Fondasi AI Perusahaan Indonesia Masih Tertinggal
PwC melihat kesenjangan antara ambisi dan implementasi sebagai salah satu penyebab manfaat AI belum merata.
Sekitar 63 persen organisasi Indonesia sudah memiliki budaya yang mendukung AI dan 57 persen menyediakan lingkungan yang memungkinkan integrasi AI. Namun, hanya 24 persen memiliki akses data komprehensif dan 32 persen memiliki investasi yang memadai.
Perusahaan juga menghadapi masalah tata kelola. Baru 36 persen organisasi memiliki proses Responsible AI formal, sementara hanya 37 persen memiliki kemampuan menarik talenta teknis AI berkualitas tinggi.
PwC secara global menemukan perusahaan dengan fondasi AI kuat, termasuk kerangka Responsible AI dan lingkungan teknologi yang mendukung integrasi skala perusahaan, memiliki kemungkinan sekitar tiga kali lebih besar untuk mencatat manfaat finansial bermakna dari AI.
ManageEngine Dorong Unified IT Management
ManageEngine menilai perusahaan juga perlu memperhatikan kompleksitas infrastruktur TI ketika mulai memasukkan AI ke operasional sehari-hari.
Bisnis sekarang menjalankan aplikasi dan perangkat dalam kombinasi cloud, on-premises, serta hybrid. AI dan otomasi menambah lapisan baru dalam ekosistem tersebut. Ketika setiap sistem berjalan dan mendapat pengelolaan secara terpisah, tim TI dapat kesulitan menemukan sumber masalah saat gangguan muncul.
ManageEngine kemudian menawarkan unified IT management sebagai pendekatan untuk menyatukan visibilitas terhadap endpoint, jaringan, aplikasi, dan infrastruktur. Perusahaan dapat memakai visibilitas tersebut untuk menemukan risiko lebih awal, mempercepat respons terhadap gangguan, sekaligus menghubungkan operasional TI dengan keamanan dan kelangsungan bisnis.
“Seiring adopsi AI yang semakin cepat, tantangan sesungguhnya bukan lagi seberapa cepat organisasi dapat menerapkan teknologi baru, melainkan seberapa bertanggung jawab dan resilien mereka mengoperasikannya,” kata Technical Manager ManageEngine Indonesia Hanief Bastian.
Adopsi AI Tak Cukup Hanya Mengejar Kecepatan
Data tersebut menunjukkan perusahaan Indonesia menghadapi tantangan baru setelah fase awal adopsi AI. Menambah chatbot, model generatif, atau otomatisasi saja belum tentu langsung menghasilkan keuntungan.
Perusahaan perlu memastikan data, keamanan, talenta, tata kelola, dan infrastruktur TI mampu mendukung AI dalam skala yang lebih besar.
Dengan baru 10 persen CEO Indonesia merasakan kenaikan pendapatan sekaligus penghematan biaya, persaingan AI berikutnya kemungkinan tidak lagi bergantung pada siapa yang paling cepat mengadopsinya. Perusahaan yang mampu mengelola AI secara terintegrasi, aman, dan terukur justru berpeluang lebih besar mengubah teknologi tersebut menjadi nilai bisnis nyata.