Editorial Topic
Tech & AI

92% Warga Indonesia Terpapar Scam, Password Masih Lemah

3 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • Riset bolttech mencatat 92 persen responden Indonesia pernah menghadapi upaya scam digital.
  • Sebanyak 44 persen responden pernah menjadi korban penipuan, peretasan, atau kejahatan siber.
  • 81 persen korban di Indonesia mengalami kerugian finansial, tertinggi dibanding rata-rata Asia-Pasifik.
  • 71 persen responden masih memakai password yang sama di beberapa akun.
  • Ancaman makin berat karena AI membuat scam lebih personal, rapi, dan sulit dikenali.

Masyarakat Indonesia masih rentan menjadi korban scam digital. Riset terbaru bolttech menunjukkan mayoritas pengguna internet di Indonesia pernah menghadapi upaya penipuan online, tetapi banyak yang belum menjalankan kebiasaan keamanan digital secara konsisten.

Dalam laporan Asia-Pacific Cyber Safety Landscape 2026, bolttech mencatat 92 persen responden Indonesia pernah menerima atau menghadapi upaya penipuan digital. Dari jumlah tersebut, 44 persen mengaku pernah menjadi korban penipuan, peretasan, atau kejahatan siber lain.

Korban Scam RI Banyak Alami Kerugian Finansial

Dampak scam digital di Indonesia tidak berhenti pada gangguan akun. Riset bolttech menemukan 81 persen korban kejahatan siber di Indonesia mengalami kerugian finansial. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata Asia-Pasifik yang berada di level 67 persen.

Data Otoritas Jasa Keuangan memperkuat gambaran tersebut. Hingga 17 Agustus 2025, Indonesia Anti-Scam Centre menerima 225.281 laporan. OJK mencatat total kerugian dana korban mencapai Rp4,6 triliun, sementara dana yang berhasil diblokir mencapai Rp349,3 miliar.

Komdigi juga mencatat tren serupa. Sepanjang November 2024 hingga Januari 2025, kerugian finansial akibat kejahatan siber mencapai Rp476 miliar. Hingga pertengahan 2025, sistem pengaduan publik menerima 1,2 juta laporan penipuan digital.

Merasa Aman, tetapi Perilaku Masih Berisiko

Masalah utama muncul dari jarak antara rasa aman dan tindakan nyata. bolttech menemukan 94 persen responden Indonesia merasa punya kebiasaan keamanan digital yang baik atau sangat baik. Namun, hanya 44 persen yang benar-benar menerapkan praktik keamanan siber kuat secara konsisten.

Kebiasaan paling berisiko terlihat pada penggunaan password. Sebanyak 71 persen responden Indonesia masih memakai kata sandi yang sama untuk beberapa akun digital. Pola ini paling banyak muncul pada kelompok usia 26-41 tahun.

AdvertisementIn-Article Banner

Risikonya besar. Saat satu layanan bocor, pelaku dapat mencoba kombinasi email dan password yang sama ke akun lain, termasuk media sosial, e-commerce, dompet digital, hingga mobile banking.

AI Bikin Scam Makin Sulit Dikenali

Ancaman scam juga makin kompleks karena pelaku mulai memanfaatkan kecerdasan buatan. Dalam riset bolttech, 93 persen responden Indonesia khawatir AI mempercepat penyebaran penipuan online.

Kekhawatiran itu beralasan. Komdigi sebelumnya memperingatkan penyalahgunaan deepfake berbasis AI untuk membuat wajah, suara, atau video palsu yang tampak meyakinkan. Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut kerugian akibat modus penipuan yang memanfaatkan AI telah mencapai Rp700 miliar.

Di sisi lain, kanal scam yang paling sering ditemui pengguna Indonesia masih sangat dekat dengan aktivitas harian. Riset bolttech mencatat penipuan lewat panggilan telepon menjadi yang paling sering muncul dengan porsi 61 persen, disusul SMS mencurigakan sebesar 50 persen, dan aplikasi perpesanan sebesar 49 persen.

Pengguna Belum Siap Merespons Ancaman

Kesiapan pengguna juga masih rendah. Hanya 37 persen responden Indonesia yang yakin mengetahui langkah yang perlu dilakukan saat menghadapi ancaman siber.

David Black, Pendiri dan CEO Blackbox Research, mengatakan penipuan telah menjadi hambatan besar dalam ekonomi digital kawasan.

“Penipuan telah menjadi hambatan yang tak terhindarkan dalam ekonomi digital kawasan ini,” ujar David Black.

Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan pengguna tidak bisa hanya mengandalkan edukasi. Bank, operator, platform digital, dan penyedia layanan teknologi perlu memperkuat sistem deteksi scam, pemblokiran transaksi mencurigakan, dan perlindungan akun.

Namun, pengguna tetap perlu memperbaiki kebiasaan dasar. Password berbeda untuk setiap akun, autentikasi dua faktor, verifikasi nomor pengirim, dan kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan menjadi langkah minimum.

Scam digital kini tidak lagi menyasar pengguna yang “tidak paham teknologi” saja. Dengan AI, pesan palsu bisa terlihat rapi, personal, dan meyakinkan. Karena itu, rasa aman di internet harus dibuktikan dengan perilaku yang lebih disiplin.