BagusTech – Riyadh Air dan IBM menandai babak baru transformasi industri penerbangan global. Keduanya menjalin kerja sama strategis untuk membangun Riyadh Air sebagai maskapai yang sejak awal dirancang berbasis kecerdasan buatan atau AI-native. Pendekatan ini menempatkan AI bukan sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai fondasi utama seluruh operasional maskapai.
Industri penerbangan saat ini bergerak di bawah tekanan tinggi. Penumpang menuntut layanan cepat dan personal, sementara maskapai harus mengelola operasi yang semakin kompleks dan tetap menjaga efisiensi biaya. Banyak pemain lama masih bergulat dengan sistem warisan yang terfragmentasi dan sulit terintegrasi. Riyadh Air memilih jalur berbeda dengan memulai dari nol dan membangun arsitektur digital yang sepenuhnya modern.
Baca Juga
- IBM & NREL Kembangkan AI Rantai Pasok Berkelanjutan
- Targetkan Solusi Bisnis, iBox Gelar Ignite Summit 2025
- MediaTek Berhasil Uji Coba NR‑NTN 5G‑Advanced Rel‑19
Kolaborasi Riyadh Air & IBM
IBM Consulting memegang peran sentral dalam kolaborasi ini. Melalui platform watsonx Orchestrate, IBM mengorkestrasi puluhan alur kerja dan jaringan mitra teknologi global, termasuk Adobe, Apple, FLYR, dan Microsoft. Pendekatan ini memungkinkan seluruh sistem bekerja secara terpadu, sehingga data dan proses dapat mengalir tanpa hambatan antar fungsi.
Riyadh Air memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membuka peluang pendapatan baru. AI membantu maskapai mengoptimalkan profitabilitas rute, merespons gangguan operasional dengan lebih cepat, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara real-time. Dengan cara ini, manajemen tidak lagi bergantung pada laporan statis, tetapi memperoleh insight langsung dari data yang terus diperbarui.
Fokus kolaborasi ini tidak berhenti pada sisi operasional. Riyadh Air juga menaruh perhatian besar pada pengalaman karyawan. Maskapai ini mengembangkan tempat kerja digital berbasis AI dengan antarmuka percakapan sebagai satu pintu akses layanan HR. Sistem tersebut menyederhanakan proses internal, mempercepat layanan mandiri, dan mendukung rencana ekspansi jumlah tenaga kerja.
Di sisi layanan penumpang, aplikasi seluler berbasis AI menghadirkan pengalaman concierge agentik. Teknologi ini membantu kru kabin dan staf darat menentukan langkah terbaik saat berinteraksi dengan penumpang. Layanan pun menjadi lebih personal dan kontekstual, misalnya dengan menawarkan jalur cepat bagi penumpang yang memiliki waktu terbatas.
IBM dan Riyadh Air juga membangun sistem manajemen kinerja perusahaan yang mengintegrasikan data keuangan, operasional, dan komersial. Otomatisasi perencanaan, penganggaran, dan analisis memungkinkan manajemen merumuskan strategi dengan dasar data yang lebih akurat dan relevan.
Riyadh Air
Riyadh Air sendiri merupakan maskapai nasional baru Arab Saudi yang didirikan pada 2023 dan dimiliki oleh Public Investment Fund (PIF), dana investasi negara Arab Saudi. Maskapai ini menjadi bagian dari strategi Vision 2030 yang bertujuan menjadikan Riyadh sebagai salah satu hub penerbangan dan pariwisata global, sekaligus memperluas konektivitas internasional Kerajaan Saudi Arabia. Keduanya menjalin kerja sama strategis untuk membangun Riyadh Air sebagai maskapai yang sejak awal dirancang berbasis kecerdasan buatan atau AI-native. Pendekatan ini menempatkan AI bukan sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai fondasi utama seluruh operasional maskapai.
Langkah Riyadh Air membangun maskapai AI-native memberi sinyal kuat bagi industri penerbangan global. Transformasi digital tidak lagi cukup dilakukan secara bertahap. Maskapai yang ingin bersaing di era baru perlu merancang ulang fondasi operasionalnya dengan AI sebagai inti. Ke depan, implementasi di operasi nyata akan menjadi ujian sesungguhnya, namun pendekatan ini berpotensi menjadi model baru bagi masa depan industri penerbangan.

