bagustech – Transformasi digital berbasis kecerdasan artifisial sering dipromosikan sebagai jalan pintas menuju efisiensi dan pertumbuhan. Namun, di balik narasi optimistis tersebut, terdapat biaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian organisasi. Isu inilah yang mengemuka dalam gelaran Ingram Micro Innovation Day 2025 yang berlangsung di Jakarta pada 9 Desember 2025.
Dengan mengusung tema “Navigating Intelligent Growth & Harnessing AI in the Digital Landscape”, forum ini menghadirkan diskusi lintas sektor yang membedah realitas adopsi AI secara lebih jujur. Pesan utamanya tegas: AI tidak pernah benar-benar murah jika organisasi mengabaikan fondasi tata kelola, keamanan, dan kesiapan sumber daya.
Baca Juga
- Uni Eropa Jatuhkan Denda €120 Juta Buat X Karena Centang Biru
- MODENA Hadirkan PLTS di Pabrik Aneka Rimba Indonusa
- Fitur Baru Facebook Dorong Kreativitas dan Interaksi Pengguna
Biaya Tersembunyi Adopsi AI: Dari Data hingga Hasil Bisnis
Banyak organisasi memulai perjalanan AI dengan fokus pada model, perangkat keras, atau lisensi perangkat lunak. Namun, menurut President Director Ingram Micro Indonesia Mulia Dewi Karnadi, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah tahap uji coba. Ia menegaskan bahwa inovasi digital menuntut kesiapan menyeluruh, bukan sekadar keberanian mencoba teknologi baru.

Dalam praktiknya, biaya tersembunyi pertama muncul dari tata kelola data. Data yang tersebar, tidak terstandarisasi, atau berkualitas rendah memaksa perusahaan mengeluarkan investasi tambahan untuk pembersihan, integrasi, dan pengamanan. Tanpa fondasi ini, AI gagal memberi hasil bisnis yang konsisten dan justru menambah beban operasional.

Biaya berikutnya berasal dari kelangkaan talenta dan kompleksitas infrastruktur. Organisasi tidak hanya membutuhkan data scientist, tetapi juga insinyur infrastruktur, ahli keamanan, serta tim operasional yang mampu menjaga sistem AI tetap stabil. Di saat yang sama, pelatihan dan inferensi model skala besar menuntut kapasitas komputasi tinggi di pusat data, cloud, maupun edge, yang berisiko mendorong lonjakan biaya jika tidak direncanakan secara matang.
Selain itu, risiko keamanan siber muncul sebagai beban finansial baru. Semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula permukaan serangan, mulai dari kebocoran data hingga manipulasi model. Ingram Micro menekankan pentingnya mengintegrasikan keamanan siber sejak tahap desain. Pendekatan ini memang membutuhkan investasi awal lebih besar, tetapi jauh lebih efisien dibanding biaya pemulihan akibat insiden keamanan di kemudian hari.

Dari sudut pandang industri, Rene Indiarto Widjaja (CEO & Founder EPSINDO) menilai pasar kini bergerak melampaui fase eksperimen. Organisasi menuntut implementasi AI yang cepat, terukur, dan selaras dengan tujuan bisnis. Tanpa kejelasan arah, AI berisiko berubah menjadi proyek mahal yang tidak pernah mencapai tahap produksi. Sebaliknya, dengan tata kelola data yang solid, integrasi vendor yang tepat, dan target bisnis yang jelas, organisasi dapat menekan biaya tersembunyi dan memaksimalkan nilai investasi AI.
Pelajaran dari Dunia Akademik

Pengalaman Institut Teknologi Del (IT Del) turut memberi perspektif penting. Investasi komputasi berbasis AI memang memerlukan biaya signifikan, tetapi hasilnya terlihat jelas pada percepatan riset dan pembelajaran. Rektor IT Del Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga menekankan pentingnya menjadikan etika, tata kelola, dan keamanan sebagai fondasi agar investasi tersebut berkelanjutan.
Ingram Micro Innovation Day 2025 menunjukkan bahwa adopsi AI bukan sekadar persoalan teknologi tercanggih. Tantangan terbesarnya justru terletak pada biaya tersembunyi yang muncul dari data, talenta, infrastruktur, dan keamanan. Organisasi yang memahami realitas ini sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan AI sebagai mesin pertumbuhan, bukan sumber pemborosan baru.

