Literasi AI dan Energi Bersih Jadi Kunci AI di Indonesia
Ringkasan Cepat
- Kearney menilai AI mulai mengubah model pertumbuhan ekonomi global.
- Indonesia perlu memperkuat literasi AI agar bonus demografi tidak kehilangan daya saing.
- Energi bersih dan stabil menjadi fondasi penting untuk menopang data center, cloud, dan daya komputasi.
- Negara yang unggul di era AI bukan hanya yang memiliki tenaga kerja besar, tetapi yang mampu membangun infrastruktur dan ekosistem AI.
- Kolaborasi pemerintah, akademisi, investor, penyedia teknologi, dan dunia usaha menjadi faktor penting.
- Literasi AI dan Energi Bersih Jadi Kunci AI di RI
Literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan energi bersih menjadi dua pilar penting bagi Indonesia untuk bersaing dalam ekonomi AI. Laporan terbaru Kearney menilai negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak bisa lagi hanya mengandalkan jumlah tenaga kerja besar dan biaya produksi rendah sebagai sumber daya saing.
Dalam laporan berjudul “How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI”, Kearney menyebut AI sedang mengubah model pembangunan ekonomi global. Teknologi ini tidak lagi sekadar menjadi alat peningkat produktivitas, tetapi sudah menjadi kapabilitas ekonomi fundamental yang memengaruhi cara negara menarik investasi, membangun industri, mengembangkan sumber daya manusia, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Kearney menilai negara yang unggul di era AI bukan lagi negara yang menawarkan biaya paling rendah atau tenaga kerja paling besar. Keunggulan akan bergeser ke negara yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar.
“AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi,” ujar Tomoo Sato, Partner at Kearney dan penulis laporan tersebut.
Literasi AI Jadi Pengganda Produktivitas
Kearney menempatkan literasi AI sebagai salah satu pengganda produktivitas terbesar bagi organisasi dan perekonomian. Alasannya, AI semakin masuk ke alur kerja sehari-hari, mulai dari operasional bisnis, layanan pelanggan, pemasaran, pengembangan perangkat lunak, riset, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Bagi Indonesia, literasi AI menjadi isu penting karena bonus demografi tidak otomatis berubah menjadi daya saing. Jumlah penduduk usia produktif tetap menjadi modal besar, tetapi pekerja perlu memiliki kemampuan untuk memahami, memakai, dan beradaptasi dengan sistem berbasis AI.
Tanpa literasi AI yang merata, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar teknologi. Sebaliknya, jika pekerja, kampus, birokrasi, UMKM, dan industri mampu memakai AI secara produktif, populasi besar dapat berubah menjadi mesin inovasi dan pertumbuhan ekonomi baru.
Kearney juga menilai otomatisasi dan AI dapat menekan kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa. Kondisi ini membuat keunggulan berbasis tenaga kerja murah tidak lagi berkelanjutan seperti pada siklus pembangunan sebelumnya.
Energi Bersih Menopang Infrastruktur AI
Selain literasi AI, Kearney menilai Indonesia perlu menguasai energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya. Pilar ini penting karena ekonomi AI membutuhkan daya komputasi besar. Data center, cloud, chip, dan sistem AI membutuhkan pasokan listrik yang stabil, efisien, dan berkelanjutan.
Kearney menyebut daya komputasi kini menjadi aset strategis nasional. Akses terhadap chip, energi, infrastruktur cloud, dan talenta AI akan menentukan kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI. Dengan kata lain, energi bukan lagi sekadar faktor pendukung, melainkan bagian dari daya saing digital.
Bagi Indonesia, kebutuhan energi bersih berkaitan langsung dengan peluang menarik investasi di sektor data center dan infrastruktur digital. Jika pasokan listrik tidak memadai atau tidak efisien, Indonesia akan sulit mengambil posisi kuat dalam rantai nilai AI.
Indonesia Perlu Masuk Rantai Nilai AI
Kearney menilai peluang Indonesia dalam ekonomi AI tidak hanya berada pada pengembangan model AI inti. Indonesia juga bisa mengambil posisi di sektor pendukung, seperti layanan digital, operasional berbasis AI, infrastruktur data, manufaktur berteknologi tinggi, dan integrasi AI di berbagai sektor ekonomi.
Peluang itu membutuhkan strategi yang lebih jelas. Indonesia perlu menentukan area yang bisa memberi nilai tambah, bukan sekadar mengadopsi teknologi dari luar. Dalam konteks ini, literasi AI dan energi bersih menjadi fondasi awal untuk memperkuat posisi Indonesia.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi,” ujar Shirley Santoso, Presiden Direktur Kearney Indonesia.
Menurut Shirley, negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan mengubah kapabilitas teknologi menjadi hasil ekonomi nyata.
Kolaborasi Jadi Faktor Penentu
Kearney menilai pengembangan AI membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha. Kolaborasi ini penting agar Indonesia mampu memperkuat posisi dalam rantai nilai AI dan mengubah peluang teknologi menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Indonesia juga perlu memperhatikan keamanan, etika, dan kedaulatan AI. Kearney menilai pemerintah dan organisasi perlu menjawab tantangan terkait tata kelola, regulasi, keamanan siber, kepercayaan publik, dan kendali atas infrastruktur digital penting.
Temuan Kearney menunjukkan bahwa perkembangan AI di Indonesia tidak cukup dilihat dari jumlah aplikasi atau tingkat adopsi teknologi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu menyiapkan tenaga kerja yang melek AI, energi yang cukup bersih dan stabil, serta ekosistem digital yang dapat menciptakan nilai ekonomi sendiri.
Jika tiga hal itu tidak dibangun secara serius, Indonesia berisiko hanya menjadi pengguna AI. Namun, jika literasi AI dan energi bersih diperkuat sejak sekarang, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi lebih besar dalam ekonomi AI global.