BagusTech – PT Nuon Digital Indonesia (Nuon), anak usaha Telkom Group, menyiapkan strategi 2026 dengan fokus memperkuat monetisasi ekosistem digital nasional. Perusahaan mengarahkan langkahnya pada integrasi distribusi, sistem pembayaran, serta pengembangan intellectual property (IP) lokal untuk menekan kebocoran nilai ekonomi digital atau value leakage.
Langkah ini muncul di tengah pertumbuhan pesat konsumsi digital di Indonesia. Basis pengguna yang besar mendorong pertumbuhan industri hiburan digital, tetapi sebagian besar monetisasi masih mengalir ke platform global. Kondisi tersebut membuat nilai ekonomi yang tercipta di dalam negeri belum optimal.
Nuon melihat celah ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Perusahaan menempatkan diri sebagai penghubung antara konten, distribusi, dan monetisasi dalam satu ekosistem terintegrasi. Fokus ini sekaligus menjadi diferensiasi utama dibanding pemain digital lain yang hanya beroperasi di satu lini.
CEO Nuon, Aris Sudewo, menegaskan bahwa perusahaan berada pada titik penting dalam rantai nilai digital. Ia menyebut distribusi sebagai kekuatan utama Nuon untuk menghubungkan konten dengan pengguna sekaligus mendorong monetisasi.
“Kekuatan utama Nuon terletak pada penguasaan simpul distribusi digital. Kami berada pada posisi strategis untuk menghubungkan konten, pengguna, dan monetisasi dalam satu ekosistem yang utuh,” ujar Aris.
Nuon memanfaatkan dukungan infrastruktur Telkom Group untuk memperkuat strategi tersebut. Dengan basis pengguna seluler dan broadband yang besar, perusahaan memiliki akses langsung ke pasar digital dalam skala nasional. Akses ini tidak hanya memperluas jangkauan, tetapi juga membuka peluang peningkatan konversi dan retensi pengguna.
Perusahaan tidak berhenti pada distribusi. Nuon membangun model bisnis terintegrasi yang menggabungkan penciptaan IP, distribusi platform, sistem pembayaran, serta pemanfaatan data perilaku pengguna. Integrasi ini membentuk model ecosystem flywheel, di mana setiap layanan saling mendorong pertumbuhan layanan lain.
Pendekatan ini memungkinkan Nuon meningkatkan nilai ekonomi per pengguna secara berkelanjutan. Pengguna yang masuk melalui satu layanan dapat diarahkan ke layanan lain dalam ekosistem yang sama, sehingga menciptakan aliran pendapatan yang lebih stabil.
Di sisi pembayaran, Nuon mengandalkan Direct Carrier Billing (DCB) sebagai salah satu pilar utama. Teknologi ini memungkinkan pengguna melakukan transaksi digital tanpa rekening bank atau kartu kredit. Strategi ini menargetkan segmen unbanked dan underbanked yang masih besar di Indonesia.
Dengan DCB, Nuon membuka akses lebih luas terhadap konten digital premium. Kemudahan transaksi mendorong peningkatan konversi dan memberikan peluang monetisasi lebih besar bagi kreator serta mitra konten.
Nuon juga memperkuat ekosistemnya melalui pengembangan berbagai layanan digital. Di sektor gim, perusahaan mengelola distribusi dan top-up melalui UPOINT.ID serta menyalurkan voucher ke berbagai operator dan mitra distribusi. Di sektor musik, Nuon menghadirkan Langit Musik dan Langitku, serta layanan PlayUp untuk memperluas monetisasi musisi lokal.
Selain itu, Nuon mengembangkan layanan Gaming-on-Demand HELD yang saat ini memasuki tahap uji coba. Perusahaan juga menjalankan layanan ticketing melalui Tiketapasaja.com untuk memperkuat lini live experiences.
Pengembangan IP lokal menjadi fokus utama pada 2026. Langkah ini bertujuan meningkatkan kepemilikan aset kreatif dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing di pasar global. IP lokal yang kuat membuka peluang ekspansi lintas platform dan menciptakan sumber pendapatan jangka panjang.
Nuon kini tidak lagi sekadar menjadi unit bisnis tambahan di Telkom Group. Perusahaan menempati posisi sebagai aset strategis yang mendorong pertumbuhan pendapatan non-konektivitas. Strategi ini mencerminkan perubahan arah Telkom Group yang mulai memperkuat peran di sektor layanan digital bernilai tambah.
Meski demikian, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada eksekusi. Integrasi layanan harus berjalan efektif agar mampu meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus memperkuat monetisasi. Selain itu, adopsi layanan baru dan keberhasilan pengembangan IP lokal akan menjadi indikator utama dalam mengukur efektivitas strategi tersebut.
Secara keseluruhan, Nuon menempatkan 2026 sebagai momentum untuk memperkuat posisi dalam ekosistem digital nasional. Perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga berupaya memastikan nilai ekonomi digital Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal di dalam negeri. Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, Nuon berpotensi menjadi pemain kunci dalam membangun kemandirian ekonomi digital Indonesia.”}

