Editorial Topic
Aviasi

Stok Avtur Eropa Menipis, Cadangan di Bawah 30 Hari

3 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • Stok avtur Eropa hanya menutup kebutuhan kurang dari 30 hari.
  • Cadangan Eropa mencapai 38 juta barel, sedangkan AS memiliki sekitar 99 juta barel.
  • Konflik Iran dan gangguan Selat Hormuz menekan jalur impor.
  • IATA memperkirakan harga avtur 2026 naik hampir 70 persen.
  • Maskapai dapat mengurangi rute pendek dan menaikkan harga tiket.

Eropa menghadapi tekanan baru pada pasokan bahan bakar penerbangan setelah cadangan avtur kawasan itu turun ke level terendah dibandingkan pasar utama lain. Stok komersial Eropa mencapai sekitar 38 juta barel pada awal Juni 2026, jumlah yang hanya mampu menutup kebutuhan kurang dari 30 hari jika aliran pasokan baru berhenti.

Angka tersebut jauh di bawah Amerika Serikat yang memiliki sekitar 99 juta barel. Namun, kondisi ini tidak berarti bandara Eropa akan langsung kehabisan avtur dalam satu bulan. Kilang masih memproduksi bahan bakar, sementara kapal tanker tetap membawa pasokan dari Amerika Serikat, Kanada, Nigeria, India, dan Korea Selatan.

Konflik Iran Tekan Impor Avtur Eropa

Konflik Iran dan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz memperbesar risiko pasokan Eropa. Kawasan tersebut mengandalkan impor untuk memenuhi sekitar 30 hingga 40 persen kebutuhan avturnya. Sebelum konflik meningkat, pemasok Timur Tengah memasok sedikitnya separuh dari volume impor tersebut.

Eropa sudah menambah pembelian dari negara lain dan meningkatkan produksi kilang lokal. Meski demikian, Energy Aspects memperkirakan pasar Eropa masih menghadapi defisit hampir 600.000 barel per hari pada kuartal ketiga 2026. Periode tersebut bertepatan dengan puncak perjalanan musim panas yang mendorong konsumsi bahan bakar penerbangan.

Britania Raya, Prancis, dan Jerman menghadapi paparan besar karena ketiga negara mengoperasikan jaringan penerbangan padat dan sejumlah hub internasional utama. Cadangan yang tipis membuat pasar lebih sensitif terhadap penutupan jalur laut, gangguan kilang, keterlambatan kapal tanker, atau eskalasi baru di Timur Tengah.

Harga Avtur Naik, Maskapai Pangkas Rute

Tekanan pasokan juga menaikkan biaya operasional maskapai. International Air Transport Association atau IATA memperkirakan harga rata-rata jet fuel mencapai 152 dollar AS per barel sepanjang 2026, naik hampir 70 persen dari rata-rata 90 dollar AS per barel pada 2025.

IATA memperkirakan biaya bahan bakar industri penerbangan global melonjak dari 252 miliar dollar AS pada 2025 menjadi 350 miliar dollar AS pada 2026. Kenaikan tersebut mendorong maskapai meninjau kembali rute yang memiliki permintaan rendah atau margin tipis.

AdvertisementIn-Article Banner

Lufthansa Group, misalnya, menghapus sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek dari jadwal musim panas hingga Oktober 2026. Perusahaan memperkirakan langkah tersebut menghemat sekitar 40.000 ton avtur dan mengurangi kapasitas grup kurang dari satu persen. Lufthansa menekankan faktor ekonomi sebagai alasan utama, bukan karena perusahaan sudah kehilangan akses terhadap bahan bakar.

Uni Eropa Pantau Stok Bahan Bakar

Komisi Eropa menyiapkan pemantauan stok, produksi, impor, dan distribusi bahan bakar melalui koordinasi lintas negara. Otoritas Eropa juga dapat mengoordinasikan penggunaan cadangan nasional apabila kondisi pasar terus memburuk.

Untuk saat ini, maskapai masih memiliki kontrak pasokan dan terus menerima kiriman avtur. Namun, cadangan kurang dari 30 hari mempersempit ruang Eropa untuk menghadapi gangguan baru.

Jika harga kembali melonjak atau volume impor menurun, maskapai berpotensi mengurangi penerbangan yang kurang menguntungkan. Maskapai juga dapat meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada penumpang melalui tarif yang lebih tinggi atau biaya tambahan bahan bakar.

Sumber