BagusTech – Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 kembali menjadi sorotan ketika Netflix menayangkan perdana film terbaru karya Ernest Prakasa, “Lupa Daratan”.
Pemutaran ini menarik perhatian publik, kritikus film, hingga komunitas kreatif yang memadati venue untuk menyaksikan debut global film satir tersebut. Dengan reputasi JAFF sebagai salah satu festival film paling berpengaruh di Asia Tenggara, kehadiran “Lupa Daratan” semakin mempertegas posisi film Indonesia dalam percaturan sinema regional.
Baca Juga
- Netflix Hadirkan Lupa Daratan: Komedi Segar Karya Ernest & Vino
- Netflix dan APROFI Perkuat Standar Industri Film Indonesia
- Netflix Hadirkan Creative Asia di JAFF 2025
Jalan Cerita Lupa Daratan
“Lupa Daratan” menghadirkan kisah seorang aktor peraih penghargaan yang mendadak kehilangan kemampuan berakting tepat ketika ia mendapat kesempatan besar memerankan Presiden Indonesia. Konflik internal tokoh utama menjadi pintu masuk bagi kritik sosial yang dikemas Ernest dengan gaya khasnya-humor cerdas, dialog reflektif, dan situasi absurd yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Film ini tidak hanya mengeksplorasi dunia seni peran, tetapi juga memotret dinamika ego, tekanan industri hiburan, serta bagaimana popularitas sering kali mengaburkan batas antara jati diri dan pencitraan. JAFF menjadi panggung yang tepat untuk karya dengan gagasan kuat seperti ini.
Sambutan Penonton di JAFF 2025
Penonton memberikan respons positif selama pemutaran berlangsung. Tawa pecah di berbagai momen satir yang dieksekusi dengan presisi, sementara beberapa adegan dramatis berhasil memicu keheningan sebelum disusul tepuk tangan panjang saat film berakhir. Dalam sesi diskusi setelah pemutaran, Ernest Prakasa mengungkap proses kreatif di balik film ini, termasuk bagaimana ia menyusun lapisan kritik sosial tanpa menghilangkan elemen hiburan yang dapat dinikmati berbagai kalangan.
Para peserta diskusi juga menyoroti relevansi tema film terhadap kondisi sosial-politik Indonesia saat ini, menjadikan “Lupa Daratan” sebagai karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga memancing refleksi.
Melalui pemutaran perdana di JAFF, Netflix menegaskan komitmennya untuk mendukung karya-karya kreator Indonesia. “Lupa Daratan” menjadi salah satu contoh bagaimana cerita lokal dapat berkembang ke tingkat global melalui kolaborasi strategis platform streaming dan ekosistem festival film.
Kehadiran Netflix memberi ruang distribusi yang lebih luas bagi film-film Indonesia, memungkinkan karya seperti “Lupa Daratan” menjangkau jutaan penonton di berbagai negara.
Pemutaran perdana “Lupa Daratan” di JAFF 2025 menunjukkan bahwa sinema Indonesia terus berkembang dengan keberanian mengeksplorasi tema-tema sensitif melalui kemasan kreatif. Ernest Prakasa berhasil menghadirkan film yang menghibur, menggugah, sekaligus relevan dengan dinamika zaman. Dengan dukungan Netflix dan panggung JAFF, film ini membuka jalan bagi lebih banyak karya Indonesia untuk bersaing dan mendapat perhatian di ranah internasional.

