BagusTech – Fujifilm Indonesia menggandeng Siloam International Hospitals untuk mempercepat transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Kedua perusahaan menempatkan AI klinis, teknologi imaging, pelatihan tenaga medis, dan perangkat X-ray portabel sebagai fokus utama kerja sama.
Kemitraan strategis ini diumumkan di Jakarta pada 22 Mei 2026. Fujifilm dan Siloam menandatangani kerja sama tersebut pada 20 Mei 2026 dalam agenda yang dihadiri langsung oleh President and CEO Fujifilm Holdings Corporation, Teiichi Goto.
Lewat kerja sama ini, kedua perusahaan tidak hanya menargetkan penggunaan perangkat medis baru di rumah sakit. Keduanya ingin membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi, lebih presisi, dan lebih siap menghadapi kebutuhan medis masa depan.
Fujifilm membawa pengalaman global di bidang teknologi imaging, AI klinis, dan pelatihan medis. Sementara itu, Siloam membawa jaringan rumah sakit, kapabilitas klinis, serta ambisi untuk memperkuat layanan kesehatan berstandar internasional di Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi penting karena sektor kesehatan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Akses layanan belum merata, kebutuhan diagnosis cepat terus meningkat, dan tenaga medis membutuhkan dukungan teknologi yang bisa mempercepat proses kerja tanpa mengurangi akurasi.
Baca Juga
- Fitur-Fitur Menarik di Fujifilm X-M5, Mirrorless Compact Bisa Buat Bikin Video Vertikal
- Fujifilm X-T30 III Tawarkan Fitur Besar dalam Bodi Ringkas
- Fujifilm Instax Mini 13 Resmi Meluncur di Indonesia
AI Klinis Jadi Fokus Awal Fujifilm & Siloam
Kerja sama ini dibangun di atas tiga fokus utama. Fokus pertama menyasar penguatan kapabilitas layanan kesehatan melalui solusi AI klinis.

Teknologi AI tersebut akan mendukung proses skrining, meningkatkan akurasi diagnosis, dan membantu tenaga medis mengoptimalkan alur kerja klinis. Dengan dukungan data, dokter dan tenaga kesehatan dapat mengambil keputusan lebih cepat dalam menangani pasien.
Pendekatan ini sejalan dengan tren layanan kesehatan modern yang semakin mengandalkan data. AI tidak menggantikan peran dokter, tetapi memperkuat kemampuan tenaga medis dalam membaca informasi klinis, mendeteksi risiko, dan mempercepat proses pemeriksaan.
Bagi rumah sakit, efisiensi alur kerja menjadi faktor penting. Proses diagnosis yang lebih cepat dapat membantu mengurangi antrean, mempercepat penanganan, dan meningkatkan pengalaman pasien. Namun, keberhasilan penerapan AI tetap bergantung pada integrasi sistem, pelatihan pengguna, dan tata kelola data yang kuat.
Fujifilm dan Siloam Siapkan Endoscopy Training Center
Fokus kedua kerja sama ini berada pada pengembangan pendidikan tenaga medis. Kedua perusahaan akan membentuk Endoscopy Training Center untuk memperkuat kemampuan klinis Indonesia dalam prosedur gastroenterologi tingkat lanjut.
Pusat pelatihan ini akan mencakup prosedur seperti endoscopic ultrasound atau EUS, endoscopic retrograde cholangiopancreatography atau ERCP, serta colonoscopy. Ketiga prosedur tersebut membutuhkan keterampilan klinis yang kuat dan pelatihan yang terstruktur.
Kedua perusahaan juga akan memperkuat inisiatif ini melalui pertukaran pengetahuan dengan Jepang dan mitra regional. Selain itu, keduanya akan menggandeng Universitas Pelita Harapan dalam program pendidikan untuk menyiapkan tenaga medis yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan perangkat baru. Rumah sakit juga membutuhkan tenaga medis yang mampu menggunakan teknologi secara tepat, konsisten, dan sesuai kebutuhan klinis.
Bagi rumah sakit, pusat pelatihan ini juga memperkuat posisi Gastroenterology Center of Excellence. Siloam ingin memperluas perannya sebagai pusat pembelajaran regional sehingga lebih banyak tenaga medis dapat mengakses pelatihan berkualitas.
X-ray Portabel Berbasis AI untuk Deteksi TB
Fokus ketiga menyentuh isu kesehatan masyarakat, terutama tuberkulosis. Kedua perusahaan akan menjajaki inisiatif untuk meningkatkan deteksi dini serta memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat.
Dalam kerja sama ini, kedua pihak akan menunjukkan pemanfaatan sistem X-ray portabel berbasis AI untuk mendukung skrining di wilayah terpencil dan komunitas dengan akses kesehatan terbatas.
Pendekatan ini relevan untuk Indonesia yang memiliki tantangan geografis luas. Perangkat portabel dapat membawa layanan skrining lebih dekat ke masyarakat, terutama di area yang jauh dari fasilitas kesehatan besar.
Jika berjalan efektif, model seperti ini dapat membantu tenaga kesehatan melakukan deteksi lebih awal. Deteksi dini menjadi kunci dalam penanganan penyakit menular seperti tuberkulosis karena penanganan yang lambat dapat memperbesar risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien.
Fujifilm: Teknologi Harus Masuk ke Sistem
Teiichi Goto menegaskan bahwa masa depan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Menurutnya, teknologi harus masuk ke dalam sistem yang mampu memberi dampak langsung bagi pasien dan tenaga medis.
“Kami melihat bahwa masa depan layanan kesehatan tidak lagi ditentukan oleh teknologi semata, tetapi oleh bagaimana teknologi tersebut terintegrasi dalam sebuah sistem yang mampu memberikan dampak nyata bagi pasien dan tenaga medis,” ujar Teiichi Goto, President and CEO Fujifilm Holdings Corporation.
Ia menambahkan, Perusahaan ingin berperan lebih aktif dalam membentuk model layanan kesehatan yang adaptif, scalable, dan relevan dengan kebutuhan Indonesia di masa depan.
Pernyataan ini menegaskan arah perusahaan di sektor kesehatan. Perusahaan asal Jepang tersebut tidak lagi hanya dikenal lewat bisnis imaging konvensional. Fujifilm kini memperluas portofolio ke teknologi kesehatan, diagnostik, data, dan solusi medis berbasis inovasi.
Siloam Ingin Perkuat Standar Layanan
CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady mengatakan transformasi layanan kesehatan perlu dimulai dari penguatan kapabilitas klinis, peningkatan standar layanan, dan perluasan akses terhadap layanan berkualitas.
“Melalui kolaborasi dengan Fujifilm Indonesia, kami ingin mempercepat inovasi layanan kesehatan melalui diagnostik canggih, pendidikan medis, dan pelatihan klinis, sekaligus memperkuat Gastroenterology Center of Excellence Siloam,” ujar Caroline Riady.
Caroline juga menyebut kerja sama ini mendukung aspirasi rum,ah sakit untuk menjadi pusat pelatihan dan pembelajaran regional. Dengan langkah tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengakses layanan kesehatan berstandar internasional lebih dekat dari rumah, tanpa perlu berobat ke luar negeri.
Pernyataan itu memperlihatkan arah strategis rumah sakit yang tidak hanya bersaing lewat perluasan jaringan, tetapi juga lewat peningkatan kualitas layanan, kompetensi klinis, dan adopsi teknologi diagnostik.
Kerja sama ini memberi sinyal kuat bahwa layanan kesehatan Indonesia bergerak menuju model yang lebih berbasis teknologi dan data. AI klinis, X-ray portabel, dan pusat pelatihan endoskopi dapat memperkuat layanan rumah sakit jika implementasinya berjalan konsisten.
Namun, tantangan terbesar tidak berhenti pada pengumuman kerja sama. Kedua perusahaan perlu memastikan teknologi ini benar-benar masuk ke alur kerja klinis, digunakan oleh tenaga medis terlatih, dan memberi manfaat langsung bagi pasien.
Isu pemerataan juga menjadi ujian penting. Sistem X-ray portabel berbasis AI akan bernilai besar jika mampu menjangkau daerah dengan akses kesehatan terbatas. Begitu pula dengan pelatihan tenaga medis, yang perlu menghasilkan dampak lebih luas di luar rumah sakit besar.
Kemitraan ini menunjukkan bahwa inovasi kesehatan tidak cukup hadir sebagai perangkat canggih di ruang perawatan. Inovasi harus mempercepat diagnosis, meningkatkan kualitas keputusan klinis, memperluas akses, dan membantu masyarakat mendapatkan layanan yang lebih baik.
Jika Kedua perusahaan mampu mengeksekusi kerja sama ini secara konsisten, kolaborasi tersebut dapat menjadi contoh bagaimana teknologi medis, AI, dan pendidikan klinis bekerja bersama untuk menaikkan standar layanan kesehatan Indonesia.

