Editorial Topic
AI & Data Center

Agentforce Salesforce Dipakai Kelola Piala Dunia 2026

4 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • Salesforce menjadi Official Tournament Supporter untuk FIFA World Cup 2026 dan FIFA Women's World Cup 2027.
  • FIFA memakai Agentforce 360 dan Slack untuk mendukung operasional turnamen.
  • Slack akan membantu koordinasi tenaga kerja di 16 kota tuan rumah Piala Dunia 2026.
  • Agentforce 360 juga akan mendukung pengalaman penggemar digital FIFA, terutama untuk Women's World Cup 2027.
  • Piala Dunia 2026 melibatkan 48 tim dan 104 pertandingan, sehingga membutuhkan sistem kerja digital yang lebih kompleks.
  • Agentforce Salesforce Dipakai Kelola Piala Dunia 2026

Salesforce membawa teknologi Agentforce 360 dan Slack untuk mendukung operasional FIFA World Cup 2026. Perusahaan CRM asal Amerika Serikat itu menjadi Official Tournament Supporter untuk FIFA World Cup 2026 dan FIFA Women’s World Cup 2027.

Salesforce menyebut kemitraan ini akan membantu FIFA mengelola tenaga kerja, komunikasi dengan kota tuan rumah, pemasok, mitra, relawan, dan penggemar. Teknologi tersebut masuk ke sisi operasional turnamen, bukan ke pengambilan keputusan di lapangan.

Agentforce 360 Masuk ke Operasional FIFA

Agentforce 360 merupakan portofolio AI Salesforce yang menggabungkan agen AI, data, aplikasi, dan manusia dalam satu sistem kerja. Salesforce menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari model Agentic Enterprise, yaitu organisasi yang memakai AI untuk bekerja langsung di dalam alur kerja harian.

Dalam konteks FIFA World Cup 2026, Salesforce akan menempatkan Slack sebagai ruang kerja utama untuk koordinasi tenaga kerja di 16 kota tuan rumah. Slack akan menghubungkan tim operasional, aplikasi, dan workflow berbasis AI secara real time.

FIFA World Cup 2026 menjadi edisi terbesar dalam sejarah Piala Dunia. FIFA mencatat turnamen ini melibatkan 48 tim, 104 pertandingan, dan berlangsung di 16 kota tuan rumah di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Slack Jadi Pusat Koordinasi Digital

Penggunaan Slack menunjukkan bahwa teknologi kolaborasi kerja mulai masuk lebih dalam ke industri olahraga. FIFA tidak hanya membutuhkan sistem komunikasi, tetapi juga platform yang bisa menyatukan data, tugas, aplikasi, dan respons cepat antartim.

Skala Piala Dunia 2026 membuat koordinasi menjadi pekerjaan besar. Turnamen ini berlangsung di tiga negara, melibatkan banyak stadion, kota tuan rumah, relawan, vendor, tim peserta, serta jutaan penggemar. Salesforce mencoba mengisi kebutuhan tersebut melalui Agentforce 360 dan Slack.

Salesforce dalam rilis globalnya menyebut FIFA World Cup 2026 akan memakai Slack untuk mengoordinasikan manajemen tenaga kerja di 16 kota. Sementara itu, FIFA Women’s World Cup 2027 akan memakai Slack dan Agentforce 360 untuk mendukung pengalaman penggemar di platform digital FIFA.

AI Dipakai untuk Pengalaman Penggemar

Selain operasional, Agentforce 360 juga akan masuk ke layanan penggemar. Salesforce menyebut agen AI otonom dapat membaca data turnamen untuk memberi dukungan yang lebih personal di berbagai kanal komunikasi FIFA.

Implementasi ini akan lebih terlihat pada FIFA Women’s World Cup 2027 di Brasil. FIFA menyebut turnamen tersebut akan berlangsung pada 24 Juni sampai 25 Juli 2027 sebagai edisi ke-10 FIFA Women’s World Cup.

Dengan sistem ini, penggemar berpotensi mendapat layanan digital yang lebih cepat, mulai dari informasi turnamen, kanal bantuan, sampai interaksi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Namun, Salesforce dan FIFA tetap perlu menjaga akurasi informasi, keamanan sistem, serta perlindungan data penggemar.

FIFA Sebut Butuh Mitra Teknologi

Patrick Stokes, President dan Chief Marketing Officer Salesforce, mengatakan Piala Dunia merupakan salah satu tugas paling kompleks dalam olahraga global.

AdvertisementIn-Article Banner

“Kami merasa terhormat dapat bermitra dengan FIFA World Cup 2026 dan FIFA Women’s World Cup 2027 untuk menghadirkan kekuatan Agentic Enterprise ke dua turnamen bersejarah ini,” ujar Stokes.

Romy Gai, Chief Business Officer FIFA, mengatakan teknologi Salesforce akan membantu menghubungkan tim peserta, kota tuan rumah, relawan, mitra, dan penggemar.

“Teknologi dan keahlian Salesforce akan membantu mendukung penyelenggaraan dua kompetisi bersejarah ini,” kata Gai.

Bukan VAR, AI Masuk ke Belakang Layar

Kerja sama ini memperlihatkan pergeseran penting dalam sports tech. Selama ini, teknologi sepak bola sering dikaitkan dengan VAR, goal-line technology, tiket digital, atau siaran pertandingan. Kini, AI juga masuk ke pekerjaan di balik layar.

Agentforce 360 tidak diposisikan sebagai teknologi untuk menentukan hasil pertandingan. Salesforce memakainya untuk membantu FIFA mengelola operasional, data, komunikasi, dan layanan penggemar.

Langkah ini penting karena event olahraga global tidak lagi cukup mengandalkan infrastruktur fisik. Penyelenggara juga membutuhkan sistem digital yang mampu menangani koordinasi lintas kota, lintas negara, dan lintas kanal secara cepat.

Piala Dunia 2026 akhirnya bukan hanya menjadi panggung sepak bola. Turnamen ini juga menjadi ujian besar bagi AI agent dalam skala nyata. Jika berjalan baik, model seperti Agentforce 360 bisa menjadi standar baru pengelolaan event global di masa depan.