BagusTech – Industri perhotelan bergerak cepat, dan waktu sering kali menjadi faktor penentu antara peluang dan kerugian. Untuk membantu hotel beradaptasi dengan dinamika pasar, SiteMinder meluncurkan Dynamic Revenue Plus, sistem manajemen pendapatan berbasis mobile yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan data real-time.
Baca Juga
- SiteMinder Ungkap Peran Teknologi Untuk Akomodasi Pariwisata
- Samsung Galaxy S23 FE Dipastikan Hadir di Indonesia 10 Oktober
- Spesifikasi & Harga Marshall Middleton
Dynamic Revenue Plus dikembangkan bersama IDeaS, penyedia solusi revenue management global. Platform ini memberi hotel akses langsung ke data pasar yang selalu diperbarui, termasuk perubahan harga kompetitor, tren permintaan, dan event lokal yang berpotensi meningkatkan okupansi. Hotel bisa menyesuaikan harga, stok kamar, dan strategi distribusi hanya dalam hitungan menit.
Menurut Bradley Haines, Market Vice President Asia Pasifik SiteMinder, banyak hotel di Indonesia belum memiliki tim khusus untuk mengelola pendapatan, sementara pasar terus berubah dengan cepat. “Dynamic Revenue Plus menghadirkan solusi mobile-first yang memungkinkan hotel bergerak secepat pasar dan memaksimalkan potensi pendapatan mereka,” ujarnya.
Sistem ini juga dilengkapi rekomendasi otomatis berbasis AI yang menganalisis data besar dari jaringan SiteMinder, yang memproses lebih dari 130 juta reservasi hotel setiap tahun. AI kemudian memberikan saran strategis harian terkait harga, inventori, hingga distribusi, yang dapat langsung dieksekusi oleh pengguna.
Peluncuran Dynamic Revenue Plus dilakukan di ajang SiteMinder Emergent Bangkok 2025, dan menjadi langkah penting dalam mendorong digitalisasi industri hotel. Di Indonesia, potensi adopsinya besar, mengingat 68% hotelier aktif mencari solusi AI, jauh di atas rata-rata global.
Dengan fitur ini, SiteMinder tidak hanya menawarkan alat analisis, tapi juga sistem eksekusi cepat yang bisa dioperasikan langsung dari ponsel. Bagi hotel di era digital, kecepatan bereaksi terhadap perubahan pasar bukan lagi sekadar keunggulan—tapi kebutuhan untuk bertahan dan tumbuh di tengah persaingan global.

