Editorial Topic
Tech & AI

Laporan GSMA : 4G Masih Kuasai 92% Koneksi Seluler Indonesia

2 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • 4G menguasai 92 persen koneksi seluler Indonesia pada 2025.
  • Pangsa 5G Indonesia baru mencapai 4 persen pada periode yang sama.
  • GSMA memperkirakan 4G tetap dominan dengan pangsa 71 persen pada 2030.
  • Pangsa 5G Indonesia pada 2030 hanya mencapai 28 persen.
  • Angka tersebut menunjukkan komposisi koneksi, bukan cakupan jaringan.

Indonesia masih sangat bergantung pada jaringan 4G di tengah ekspansi layanan 5G. GSMA mencatat 4G menguasai 92 persen dari seluruh koneksi seluler Indonesia pada 2025, sedangkan 5G baru mengambil porsi 4 persen.

GSMA mencantumkan data tersebut dalam laporan The Mobile Economy Asia Pacific 2026. Laporan ini memetakan perkembangan teknologi seluler di sejumlah negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Namun, angka 92 persen itu tidak menunjukkan cakupan wilayah atau persentase penduduk yang menerima sinyal 4G. Angka tersebut menggambarkan komposisi seluruh koneksi seluler berdasarkan teknologi jaringan yang digunakan.

4G Tetap Dominan hingga 2030

Dominasi 4G di Indonesia tidak akan berakhir dalam waktu dekat. GSMA memperkirakan pangsa koneksi 4G Indonesia masih mencapai 71 persen pada 2030.

Pada saat yang sama, pangsa 5G tumbuh dari 4 persen pada 2025 menjadi 28 persen pada 2030. Jaringan 2G menyisakan pangsa sekitar 1 persen.

Proyeksi itu menunjukkan Indonesia akan menjalani transisi menuju 5G secara bertahap. Bahkan lima tahun lagi, lebih dari dua pertiga koneksi seluler di Indonesia masih mengandalkan 4G.

Kondisi tersebut membuat operator tetap perlu menjaga kapasitas dan kualitas jaringan 4G sembari memperluas 5G. Migrasi yang terlalu cepat juga berisiko mengabaikan mayoritas pelanggan yang masih memakai perangkat atau layanan berbasis 4G.

Pangsa 5G Indonesia di Bawah Asia Tenggara

Perkembangan 5G Indonesia juga berjalan lebih lambat daripada tren kawasan. GSMA memperkirakan 5G akan menguasai 43 persen koneksi seluler Asia Tenggara pada 2030.

Untuk seluruh Asia Pasifik, pangsa 5G akan mencapai 50 persen atau hampir 1,5 miliar koneksi. Proyeksi Indonesia sebesar 28 persen berarti terpaut 15 poin persentase dari Asia Tenggara dan 22 poin dari rata-rata Asia Pasifik.

AdvertisementIn-Article Banner

Pasar maju seperti Australia, Jepang, Selandia Baru, Singapura, dan Korea Selatan bahkan akan mencatat tingkat adopsi 5G rata-rata 91 persen pada 2030.

Harga Perangkat dan Spektrum Jadi Penentu

Laporan GSMA tidak menjelaskan satu penyebab khusus yang membuat adopsi 5G Indonesia bergerak lebih lambat. Namun, GSMA menyebut pertumbuhan 5G di luar pasar maju memerlukan “sustained investment in coverage, spectrum, affordability and device availability”.

Artinya, operator perlu memperluas jaringan dan mendapatkan spektrum yang memadai. Pada saat yang sama, konsumen membutuhkan perangkat 5G dengan harga terjangkau agar dapat berpindah dari 4G.

Data ini juga memperlihatkan bahwa kehadiran jaringan 5G belum otomatis mendorong seluruh pelanggan untuk menggunakannya. Harga HP, ketersediaan layanan, kebutuhan pengguna, serta kualitas jaringan tetap menentukan kecepatan migrasi.

Indonesia memang bergerak menuju 5G, tetapi 4G masih menjadi tulang punggung konektivitas nasional. Keberhasilan transformasi jaringan tidak hanya bergantung pada luasnya sinyal 5G, tetapi juga pada kemampuan industri menghadirkan perangkat dan layanan yang benar-benar terjangkau bagi pengguna.