BagusTech – Mulai tahun 2026, pembelian mobil listrik di China tak lagi bebas pajak sepenuhnya. Pemerintah akan memangkas insentif untuk kendaraan energi baru (NEV), dari potongan penuh menjadi separuh. Artinya, pajak pembelian akan dikenakan sebesar 5% dengan batas maksimal penghematan RMB 15.000 (sekitar Rp33 juta). Sebelumnya, pembeli masih bebas pajak hingga RMB 30.000 untuk mobil yang dikirim pada 2024–2025.
Kebijakan ini sebenarnya bertujuan membuat pasar EV lebih mandiri dan tidak bergantung pada subsidi pemerintah. Namun, bagi konsumen yang memesan mobil di akhir 2025 dan baru menerima unitnya pada 2026, perubahan ini bisa berarti tambahan biaya yang cukup besar.
Baca Juga
- Mercedes Integrasikan Google Gemini AI Ke Mobil CLA
- Kolaborasi BYD dan HONOR Dorong Era Mobilitas AI Terpadu
- Intel Gunakan Teknologi 18A Untuk Arsitektur Panther Lake
Solusi Produsen Mobil Listrik China Atas Pengurangan Insentif Pajak
Situasi ini menimbulkan dilema bagi pembeli dan pabrikan. Permintaan EV di China sedang tinggi-tingginya, membuat antrean pengiriman bisa molor hingga tahun berikutnya. Untuk menghindari kekhawatiran pelanggan, beberapa produsen besar turun tangan menawarkan solusi.
Xiaomi EV, misalnya, menjanjikan akan menanggung selisih pajak hingga RMB 15.000 bagi pembeli yang memesan sebelum 30 November 2025. Program ini berlaku untuk model SU7, SU7 Ultra, dan YU7. Jika pengiriman mundur ke 2026 karena kendala produksi dari pihak Xiaomi, pelanggan akan mendapatkan potongan tunai langsung saat pembayaran akhir.
Langkah serupa juga dilakukan Nio dan Li Auto. Nio memberikan jaminan kompensasi untuk pembeli ES8 generasi ketiga, sementara Li Auto menanggung potensi kehilangan insentif bagi pembeli Li i6 yang memesan hingga akhir Oktober. Namun, kedua produsen ini hanya membatasi programnya untuk model tertentu saja.
Jaminan Pajak Jadi Strategi Penjualan
Program jaminan pajak ini bukan sekadar bentuk empati, tapi juga strategi bisnis. Dengan cara ini, pabrikan bisa mendorong calon pembeli agar segera mengunci pesanan sebelum tenggat tahun 2025. Langkah ini juga membantu menjaga arus kas dan menghindari pembatalan order akibat ketidakpastian harga di tahun berikutnya.
Di sisi lain, kebijakan ini menunjukkan bagaimana industri EV China beradaptasi dengan transisi insentif pemerintah. Jika sebelumnya pasar didorong oleh keringanan pajak besar-besaran, kini pabrikan mulai mengambil peran langsung dalam menjaga kepercayaan konsumen.
Pemangkasan insentif NEV pada 2026 menjadi ujian baru bagi industri otomotif listrik China. Dengan menawarkan kompensasi pajak, pabrikan seperti Xiaomi, Nio, dan Li Auto mencoba menenangkan pasar dan menjaga momentum penjualan. Langkah ini menandai perubahan arah: dari ketergantungan pada subsidi negara, menuju tanggung jawab industri untuk menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan pelanggan.

