BagusTech – Huawei bersama ASEAN Foundation menutup 10th Huawei ICT Competition APAC Finals and Awards Ceremony di ASEAN Headquarters, Jakarta, pada 18 Mei 2026. Ajang regional ini mempertemukan mahasiswa bidang teknologi informasi dan komunikasi dari Asia Pasifik, sekaligus memperkuat agenda pengembangan talenta digital dan kecerdasan buatan atau AI di kawasan.
Kompetisi tahun ini menarik lebih dari 8.600 mahasiswa dari 14 negara dan wilayah. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, lebih dari 160 mahasiswa dari 13 negara dan wilayah masuk ke babak final APAC. Mereka bersaing dalam dua kategori utama, yakni Practice Competition dan Innovation Competition. Practice Competition mencakup cloud track, network track, dan computing track, sementara Innovation Competition menilai gagasan teknologi yang memiliki unsur inovasi, nilai komersial, dan dampak sosial.
Huawei menempatkan kompetisi ini sebagai bagian dari strategi penguatan ekosistem talenta digital di Asia Pasifik. Bagi Indonesia, penyelenggaraan final APAC di Jakarta memberi posisi penting karena isu talenta digital kini menjadi salah satu fondasi transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Acara puncak dihadiri sejumlah perwakilan penting, termasuk Sekretaris Jenderal ASEAN H.E. Dr. Kao Kim Hourn, perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital, ASEAN Foundation, Kedutaan Besar China untuk ASEAN, serta International Telecommunication Union atau ITU.
Dalam sambutannya, H.E. Dr. Kao Kim Hourn menegaskan bahwa talenta muda memegang peran besar dalam masa depan ekonomi digital kawasan. Ia menyebut generasi muda sebagai sumber kreativitas, inovasi, dan semangat kewirausahaan. Menurutnya, talenta digital menjadi jantung dari visi ASEAN Digital Masterplan 2030.
Pemerintah Indonesia juga memberi dukungan terhadap penyelenggaraan kompetisi ini. Dr. Fauzan Adziman, Director General of Research and Development, Ministry of Higher Education, Science, and Technology Republic of Indonesia, mengatakan ajang tersebut memberi peluang belajar yang relevan bagi talenta digital Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif bersama dalam penyelenggaraan ICT Competition APAC, yang memberikan kesempatan belajar bermakna bagi talenta digital Indonesia,” ujar Fauzan dalam keterangan resmi Huawei.
Fauzan menilai kompetisi ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis peserta. Ajang tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda Indonesia untuk bersaing dan berkolaborasi di tingkat regional. Menurutnya, pengalaman seperti ini dapat meningkatkan kesiapan tenaga kerja digital Indonesia dalam menghadapi ekonomi yang semakin digerakkan oleh teknologi.
Boni Pudjianto, Head of the Human Resources Development Agency for Communications and Digital Affairs, Ministry of Communication and Digital Affairs Republic of Indonesia, menyampaikan pandangan serupa. Ia menyebut ICT Competition APAC bukan sekadar acara penghargaan, tetapi platform yang menghubungkan pendidikan, industri, pemerintah, dan jejaring talenta digital regional.
Menurut Boni, kolaborasi tersebut mendukung misi pemerintah dalam membangun pipeline talenta digital nasional yang relevan dengan kebutuhan industri, responsif terhadap perubahan teknologi, dan selaras dengan agenda transformasi digital Indonesia.
Pemenang Huawei ICT Competition APAC ke-10
Pada pengumuman pemenang, tim dari National University of Singapore meraih Grand Prize untuk Innovation Competition. Huawei menyebut karya tim tersebut memiliki tingkat inovasi tinggi serta membawa nilai komersial dan sosial.
Di kategori Practice Competition, Vietnam Posts and Telecommunications Institute of Technology tampil dominan. Tim dari institusi tersebut meraih Grand Prize untuk Computing Track dan Cloud Track. Sementara itu, tim dari Bulacan State University, Filipina, memenangkan Grand Prize untuk Network Track.
Tim dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Brunei, Jepang, Laos, Timor-Leste, Hong Kong SAR, dan Macao SAR juga meraih penghargaan di berbagai kategori. Sebanyak 16 tim terbaik dari APAC, termasuk para pemenang Grand Prize, akan mewakili kawasan ini di babak global yang berlangsung di Shenzhen pada Juni 2026. Mereka akan bersaing dengan lebih dari 100 tim dari seluruh dunia.
Huawei Asia Pacific juga menggunakan momentum ini untuk mengumumkan inisiatif pengembangan talenta AI. Salah satu agenda utamanya ialah peluncuran luar negeri pertama white paper “ICT Job Roles and Skills in the Intelligent World”. Dokumen ini disusun bersama oleh Huawei, IDC, OpenAtom Foundation, dan Global Intelligent Internet of Things Consortium.
White paper tersebut membahas tren pekerjaan ICT, perubahan kebutuhan keterampilan, dan jalur pelatihan di era intelligent world. Dokumen ini ditujukan sebagai rujukan strategis bagi sektor pendidikan dan industri dalam menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan teknologi masa depan.
Bersamaan dengan itu, Huawei juga memperbarui kurikulum Huawei ICT Academy. Pembaruan tersebut menghadirkan kursus AI dengan materi pengajaran yang siap digunakan oleh universitas dan lembaga pelatihan di kawasan Asia Pasifik.
Peter Pan, Vice President of Huawei Asia Pacific, mengatakan edisi ke-10 ini menjadi momentum untuk memperluas dampak kompetisi. “As we mark this 10th edition, we look forward to even greater impact: continuing to inspire innovation, encourage collaboration, and support the next generation of digital talent in our region,” kata Peter Pan.
Huawei, ASEAN Foundation, dan ITU turut menandai kolaborasi simbolis untuk pengembangan talenta AI, pemberdayaan anak muda, dan penguatan kapasitas digital di kawasan. Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta tidak lagi hanya bertumpu pada pelatihan teknis, tetapi juga membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Huawei menyebut Huawei ICT Academy di APAC telah berkembang pesat dalam sembilan tahun terakhir. Program itu tumbuh dari 2 institusi di 2 negara dan wilayah menjadi lebih dari 500 institusi di 18 negara dan wilayah. Hingga saat ini, Huawei ICT Academy telah melatih lebih dari 160.000 mahasiswa, dengan lebih dari 60.000 mahasiswa masih aktif mengikuti program.
Bagi Indonesia, final Huawei ICT Competition APAC ke-10 di Jakarta datang pada waktu yang tepat. Kebutuhan talenta digital terus meningkat seiring adopsi AI, cloud, komputasi, dan jaringan cerdas di berbagai sektor. Industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengerjakan solusi teknis yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Ajang seperti Huawei ICT Competition APAC dapat mengisi celah antara pendidikan dan industri. Kompetisi memberi peserta pengalaman langsung untuk memecahkan masalah, bekerja dalam tim, dan menguji kemampuan mereka di tingkat regional. Di sisi lain, pemerintah dan pelaku industri dapat melihat lebih jelas kemampuan talenta muda yang siap masuk ke ekosistem digital.
Pada akhirnya, transformasi digital Asia Pasifik tidak hanya bergantung pada infrastruktur, investasi, atau regulasi. Kawasan ini juga membutuhkan manusia yang mampu memahami teknologi, membangun solusi, dan beradaptasi dengan perubahan cepat. Indonesia punya peluang besar mengambil peran lebih jauh, selama pengembangan talenta digital tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut menjadi program yang konsisten, terukur, dan terhubung langsung dengan kebutuhan industri.

