Gadget PC

Fitur Baru Logitech G Pro X2 SUPERSTRIKE VS X SUPERLIGHT

BagusTech – Logitech G kembali memperbarui lini mouse esports andalannya melalui PRO X2 SUPERSTRIKE. Jika generasi sebelumnya, Superlight, berfokus pada bobot ringan dan peningkatan sensor, generasi terbaru ini membawa perubahan fundamental pada sistem klik. Logitech tidak lagi hanya meningkatkan akurasi tracking, tetapi mengembangkan cara mouse merespons input pengguna.

Langkah ini menandai pergeseran arah inovasi. Selama bertahun-tahun, produsen mouse gaming berlomba meningkatkan sensor, polling rate, dan bobot. Kini, Logitech mencoba membuka area baru: latensi klik dan personalisasi respons tombol.

Baca Juga

Superlight

Logitech G PRO X Superlight yang dirilis pada 2020 menetapkan standar baru untuk mouse esports dengan bobot ringan dan performa stabil. Logitech mengandalkan sensor HERO 25K, yang saat itu menawarkan presisi tinggi dan efisiensi daya. Mouse ini menggunakan microswitch mekanis konvensional, teknologi yang telah menjadi standar industri selama bertahun-tahun.

Logitech G PRO X Superlight

Superlight menargetkan pemain profesional yang membutuhkan mouse ringan dan konsisten. Fokus Logitech saat itu terletak pada stabilitas tracking dan pengurangan bobot untuk mendukung pergerakan cepat.

Superlight 2

Pada 2023, Logitech memperkenalkan PRO X Superlight 2 dengan peningkatan signifikan pada sensor dan respons. Logitech mengganti sensor sebelumnya dengan HERO 2, yang mendukung resolusi hingga 44.000 DPI, tracking lebih cepat, dan akselerasi lebih tinggi.

Logitech PRO X Superlight 2

Logitech juga menghadirkan polling rate hingga 8.000 Hz melalui teknologi LIGHTSPEED, memungkinkan mouse mengirim input setiap 0,125 milidetik. Perusahaan juga memperkenalkan switch LIGHTFORCE hybrid, yang menggabungkan elemen optical dan mechanical untuk meningkatkan kecepatan respons dan daya tahan.

Generasi ini memperkuat posisi Logitech di segmen mouse esports premium, tetapi masih mempertahankan sistem klik berbasis switch.

SUPERSTRIKE

PRO X2 SUPERSTRIKE yang hadir pada 2026 membawa perubahan paling besar dalam sejarah lini PRO. Logitech meninggalkan sistem switch tradisional dan menggantinya dengan teknologi SUPERSTRIKE berbasis inductive analog sensing dan real-time click haptics.

Teknologi ini memungkinkan pemain mengatur actuation point secara presisi, mempercepat aktivasi ulang tombol melalui rapid trigger, dan menyesuaikan haptic feedback. Logitech juga mengklaim sistem ini dapat mengurangi latensi klik hingga 30 milidetik.

Pendekatan ini berbeda dari generasi sebelumnya. Logitech tidak lagi hanya meningkatkan komponen yang ada, tetapi mengganti fondasi sistem klik itu sendiri.

Sensor dan desain tetap stabil, fokus utama beralih ke klik

PRO X2 SUPERSTRIKE tetap menggunakan sensor HERO 2 yang sama seperti Superlight 2. Sensor ini mendukung DPI hingga 44.000, tracking lebih dari 888 IPS, dan akselerasi di atas 88G. Logitech mempertahankan sensor ini karena sudah memenuhi kebutuhan kompetitif tingkat tinggi.

Logitech juga mempertahankan desain ergonomis seri Superlight dengan bobot sekitar 61 gram. Keputusan ini menunjukkan bahwa Logitech menganggap desain dan sensor sudah optimal, sehingga perusahaan mengalihkan fokus inovasi ke sistem klik.

Perbandingan tiga generasi ini menunjukkan evolusi strategi Logitech. Superlight generasi pertama berfokus pada bobot ringan dan stabilitas sensor. Superlight 2 meningkatkan performa melalui sensor baru dan polling rate tinggi. Sementara itu, SUPERSTRIKE memperkenalkan inovasi baru dengan mengganti sistem klik.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Logitech melihat latensi klik sebagai faktor performa berikutnya yang perlu dioptimalkan.

PRO X2 SUPERSTRIKE tidak sekadar menjadi penerus Superlight 2, tetapi memperkenalkan arah baru dalam pengembangan mouse esports. Dengan mengganti sistem klik tradisional dengan teknologi analog, Logitech membuka kemungkinan peningkatan performa yang sebelumnya tidak tersedia.

Jika teknologi klik analog seperti SUPERSTRIKE diadopsi secara luas, standar performa mouse gaming kompetitif dapat berubah, dan sistem klik berpotensi menjadi faktor pembeda utama dalam periferal esports generasi berikutnya.

Bagus Arthakusuma

Bagus Arthakusuma

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Untuk Kamu

Gadget Wearables

Huawei Band 8 Mulai Dijual Dengan Berbagai Fitur Baru

bagustech.media – Huawei Band 8 sudah mulai resmi dijual kepada konsumen Indonesia dengan bandrol harga Rp 699.000, namun ada promo
Gadget Smartphone

Vivo Y36 Resmi Rilis Bawa Desain Keren Di Harga 3 Jutaan

bagustech.media – Vivo Indonesia secara resmi meluncurkan vivo Y36 Series hari ini, yang terdiri dari dua varian terbaru, yaitu vivo