BagusTech – Digital Edge menutup pembiayaan hijau senilai US$665 juta untuk membangun tahap awal Kampus CGK, pusat data berkapasitas 500MW di kawasan GIIC, Bekasi. Nilai ini menjadi pembiayaan hijau terbesar untuk proyek pusat data di Indonesia dan langsung menempatkan proyek CGK sebagai salah satu pengembangan infrastruktur digital paling ambisius saat ini.
Perusahaan mengarahkan dana tersebut untuk fase pertama dari rencana multi-fase senilai US$4,5 miliar. Digital Edge memosisikan kampus ini sebagai fasilitas hyperscale siap AI yang akan melayani kebutuhan komputasi cloud dan beban kerja data-intensif dalam skala besar.
Kebutuhan tersebut terus meningkat seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan, layanan cloud, dan transformasi digital di Indonesia. Permintaan kapasitas pusat data naik signifikan, sementara pelaku industri membutuhkan infrastruktur dengan performa tinggi dan latensi rendah. Proyek CGK hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut secara langsung.
Baca Juga
- Digital Edge Investasikan US$4,5 Miliar Bangun CGK Campus 500MW di Bekasih
- Intel Core Ultra Series 3 Resmi Masuk Segmen Edge & Embedded
- MediaTek Genio Perkuat IoT Lewat Edge AI di Dalam Perangka
Digital Edge menjalankan pembiayaan ini melalui Green Financing Framework. Skema ini menekankan efisiensi energi dan dampak lingkungan yang lebih rendah. Perusahaan menargetkan kampus CGK mampu beroperasi dengan standar keberlanjutan yang ketat sekaligus tetap memenuhi tuntutan performa tinggi dari industri teknologi.
Kampus CGK dirancang khusus untuk mendukung beban kerja AI generasi baru. Infrastruktur ini menargetkan efisiensi energi dengan PUE (Power Usage Effectiveness) sebesar 1,25. Digital Edge juga menyiapkan sistem daur ulang air, integrasi energi terbarukan, serta sertifikasi bangunan hijau LEED.
Langkah ini penting karena pusat data dikenal sebagai infrastruktur dengan konsumsi energi tinggi. Tanpa efisiensi, ekspansi pusat data berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan. Digital Edge berusaha menekan risiko tersebut sejak tahap desain.
Lokasi proyek di GIIC, Bekasi, memberi keuntungan dari sisi infrastruktur dan kesiapan utilitas. Kawasan ini memiliki sistem air daur ulang double-loop yang mendukung operasional pusat data skala besar. Selain itu, lokasi ini berada dekat dengan Jakarta sebagai pusat ekonomi, namun tetap menyediakan ruang ekspansi yang lebih luas dibandingkan pusat kota.
Pengembangan di Bekasi juga mencerminkan pergeseran peta infrastruktur digital nasional. Pusat data tidak lagi terkonsentrasi di pusat kota, tetapi mulai berkembang di kawasan penyangga yang menawarkan efisiensi biaya dan kapasitas pembangunan lebih besar.
Transaksi ini melibatkan sejumlah lembaga keuangan global dan nasional sebagai Mandated Lead Arrangers, termasuk BNP Paribas, Clifford Capital, Crédit Agricole CIB, DBS, Mizuho, OCBC, PT Bank Central Asia Tbk, dan SMBC. Crédit Agricole CIB, DBS, dan BCA juga bertindak sebagai Green Facility Coordinators.
Keterlibatan institusi keuangan besar tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek pusat data di Indonesia. Investor melihat Indonesia sebagai pasar dengan pertumbuhan digital yang kuat dan kebutuhan infrastruktur yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Chief Financial Officer Digital Edge, Jonathan Walbridge, menegaskan bahwa pembiayaan ini memperkuat posisi perusahaan dalam membangun infrastruktur digital berperforma tinggi yang tetap memperhatikan dampak lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya dukungan mitra pembiayaan dalam mendorong pertumbuhan yang bertanggung jawab.
Pembiayaan ini juga sejalan dengan agenda nasional. Indonesia mendorong transformasi digital sekaligus menargetkan Net Zero Emission pada 2060. Pemerintah juga telah memperkenalkan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan untuk mengarahkan investasi ke proyek ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, proyek CGK menunjukkan bagaimana infrastruktur digital dan prinsip keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Pusat data tidak lagi hanya berfungsi sebagai fasilitas teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang lebih luas.
Di tingkat regional, langkah Digital Edge memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan pusat data Asia Tenggara. Selama ini, Singapura mendominasi pasar hyperscale, namun keterbatasan lahan dan energi membuka peluang bagi negara lain seperti Indonesia dan Malaysia untuk menarik investasi baru.
Jika proyek CGK berjalan sesuai rencana, Indonesia berpotensi meningkatkan daya tariknya sebagai hub infrastruktur digital. Hal ini akan berdampak langsung pada ekosistem teknologi, mulai dari perusahaan cloud global hingga startup lokal yang membutuhkan kapasitas komputasi besar.
Digital Edge kini menghadapi tantangan berikutnya: mengeksekusi proyek sesuai target efisiensi dan keberlanjutan. Realisasi penggunaan energi terbarukan, efisiensi operasional, dan pencapaian standar lingkungan akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Pembiayaan US$665 juta ini menandai fase baru pembangunan pusat data di Indonesia. Industri bergerak menuju skala yang lebih besar, kebutuhan yang lebih kompleks, dan standar keberlanjutan yang lebih tinggi. Bagi pelaku industri dan investor, proyek ini menjadi indikator bahwa pasar Indonesia siap naik kelas dalam peta infrastruktur digital global.

