Editorial Topic
Entertainment

Cara Aming Mainkan Peran Dua Guru di Aku Sebelum Aku

3 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • Aming memerankan guru kembar Pak Zai dan Pak Juned.
  • Ia membedakan kedua karakter lewat suara, napas, postur, dan gestur.
  • Gina S. Noer dan acting coach Verdi Solaiman membantu proses pendalaman karakter.
  • Aku Sebelum Aku tayang global di Netflix pada 16 Juli 2026.

Netflix menghadirkan Aming dalam dua peran sekaligus di film Indonesia terbaru, Aku Sebelum Aku. Aktor tersebut memainkan saudara kembar bernama Pak Zai dan Pak Juned, dua guru dengan kepribadian berbeda yang membantu para murid mengenali diri dan menentukan jalan hidupnya.

Pak Zai bekerja sebagai guru agama, sedangkan Pak Juned mengajar olahraga. Keduanya hadir dalam lingkungan Sekolah Tunas Merdeka, sekolah baru tempat Jati, karakter utama yang diperankan Bima Sena, mempelajari cara berpikir yang berbeda dari tuntutan prestasi di rumah.

Film karya penulis dan sutradara Gina S. Noer itu akan tayang secara global di Netflix pada 16 Juli 2026.

Aming Bedakan Karakter Lewat Gestur dan Suara

Aming menyebut peran ganda ini sebagai salah satu tantangan terbesar dalam kariernya. Ia harus membuat penonton melihat Pak Zai dan Pak Juned sebagai dua individu berbeda, meskipun keduanya memiliki wajah dan hubungan darah yang sama.

“Mereka adalah saudara kembar identik tetapi tetap memiliki karakter yang berbeda. Sama tapi berbeda. Berbeda tapi tetap terasa sama,” kata Aming.

Aming tidak hanya mengubah intonasi. Ia membedah cara bicara, cara bernapas, gestur tubuh, hingga cara masing-masing karakter menunjukkan kasih sayang.

Pak Zai memiliki kepribadian lebih introver dan lembut. Ia berbicara dengan tenang serta sering menundukkan tubuh saat berinteraksi. Sebaliknya, Pak Juned tampil lebih ekstrover, lantang, tegas, dan ekspresif. Perbedaan postur dan ritme bicara membantu Aming menjaga identitas kedua karakter dalam setiap adegan.

Workshop Bersama Gina S. Noer

Aming membangun kedua guru itu melalui workshop dan latihan karakter. Ia berdiskusi dengan Gina S. Noer serta acting coach Verdi Solaiman untuk memetakan perilaku, latar emosi, dan motivasi Pak Zai maupun Pak Juned.

Ia juga bertanya kepada teman-temannya yang memiliki saudara kembar. Riset tersebut membantunya mencari keseimbangan: kedua karakter harus memperlihatkan kesamaan sebagai saudara, tetapi tetap memiliki identitas yang mudah penonton kenali.

AdvertisementIn-Article Banner

Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, Aming menjelaskan bahwa tim lebih dulu memecah karakter berdasarkan gestur dan cara berbicara. Pak Zai membawa sikap yang lebih kalem dan soft-spoken, sementara Pak Juned menunjukkan karakter lebih tegas dan terbuka.

Latar Emosi Membentuk Pak Zai dan Pak Juned

Catatan produksi menjelaskan bahwa Pak Zai melewati pengalaman hidup yang sulit, tetapi memilih kasih sayang sebagai cara untuk berhubungan dengan orang lain. Pengalaman itu membentuk tutur katanya yang tenang, bijak, dan penuh pertimbangan.

Pak Juned memiliki mekanisme berbeda. Pengalaman perundungan pada masa kecil menumbuhkan sifat protektif dalam dirinya. Ia merasa perlu melindungi diri dan orang di sekitarnya agar tidak menjadi beban bagi orang lain.

Meski berbeda, Pak Zai dan Pak Juned memiliki tujuan yang sama. Mereka tidak mendikte murid atau selalu memberi jawaban. Keduanya mendengarkan, mengawasi proses belajar, dan membantu ketika murid membutuhkan dukungan.

Peran ganda Aming menunjukkan bahwa teknik akting tidak berhenti pada perubahan kostum atau gaya suara. Aktor perlu membangun sistem perilaku yang konsisten agar dua karakter dengan wajah sama tetap memiliki kehidupan, emosi, dan identitas masing-masing.