Aplikasi Tech & AI

Blibli Ajak Pengguna Untuk JEDA untuk Tekan Respons Impulsif

JEDA by blibli

BagusTech.com – Blibli memperkenalkan inisiatif JEDA sebagai respons atas meningkatnya risiko impulsivitas dalam aktivitas digital. Program ini mendorong masyarakat untuk berhenti sejenak sebelum merespons informasi atau melakukan transaksi.

JEDA merupakan singkatan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, dan Ambil keputusan dengan tenang. Blibli menghadirkan konsep ini melalui microsite jeda10detik.com sebagai bagian dari eksperimen sosial yang melibatkan masyarakat luas.

Program ini berjalan pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan lebih dari 158.000 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuh dari 10 pengguna merasa lebih tenang setelah melakukan jeda selama 10 detik.

JEDA by blibli

Data ini menguatkan asumsi bahwa keputusan impulsif masih menjadi masalah utama dalam ekosistem digital. Dalam banyak kasus, pengguna langsung bereaksi tanpa memverifikasi informasi.

Blibli melihat kondisi ini sebagai celah yang berpotensi menimbulkan risiko, terutama dalam transaksi digital dan konsumsi informasi.

Baca Juga

Respons Cepat Picu Risiko Digital

Tekanan untuk merespons cepat terus meningkat seiring derasnya arus informasi. Notifikasi, promosi, dan konten clickbait mendorong pengguna mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Blibli menemukan bahwa konten clickbait masih efektif menarik perhatian pengguna. Dalam eksperimen JEDA, pengguna yang mengklik konten tersebut diarahkan untuk mencoba jeda 10 detik sebelum melanjutkan.

Kelompok Baby Boomers mencatat tingkat respons tertinggi dengan rasio klik 7,06 persen. Sementara itu, Gen Z mencatat angka lebih rendah di 3,43 persen.

Aktivitas impulsif juga meningkat pada jam sibuk, terutama pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan aktivitas harian tidak mengurangi potensi reaksi impulsif, justru meningkatkannya.

Risiko Penipuan Masih Tinggi

Data menunjukkan risiko digital terus meningkat. Indonesia Anti Scam Center mencatat 432.637 aduan penipuan dengan total kerugian Rp9,1 triliun dalam periode November 2024 hingga Januari 2026.

Survei APJII 2025 juga menunjukkan 22,12 persen pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.

Angka ini menegaskan bahwa masalah utama tidak hanya terletak pada sistem keamanan, tetapi juga pada perilaku pengguna.

Head of PR Blibli, Nazrya Octora, menegaskan bahwa kualitas keputusan tidak hanya bergantung pada kecepatan.

“Keputusan yang baik membutuhkan kejernihan, bukan hanya kecepatan,” ujarnya.

JEDA dari Blibli Jadi Intervensi Perilaku

Blibli memposisikan JEDA sebagai intervensi perilaku sederhana. Program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan melalui pengalaman langsung.

Pendekatan ini mendapat dukungan dari pemerintah dan regulator. Kementerian Komunikasi dan Digital menilai tantangan utama saat ini terletak pada cara masyarakat merespons informasi.

Bank Indonesia juga menyoroti keputusan impulsif sebagai salah satu penyebab risiko transaksi. JEDA dinilai dapat menjadi lapisan perlindungan awal bagi konsumen.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya perlindungan konsumen yang terus diperkuat, terutama di sektor transaksi digital.

Selaras dengan Konsep BIJAK

Kementerian Perdagangan mengaitkan JEDA dengan konsep BIJAK, khususnya pada aspek kritis sebelum membeli.

JEDA mendorong pengguna untuk mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan. Pendekatan ini relevan di tengah meningkatnya aktivitas e-commerce dan potensi kerugian akibat keputusan cepat.

Dengan mengintegrasikan pendekatan perilaku dan edukasi, JEDA memperluas konsep literasi digital menjadi lebih praktis dan aplikatif.

Secara psikologis, jeda singkat memberi ruang bagi otak untuk memproses informasi secara lebih rasional.

Psikolog Irma Agustina menyebut kebiasaan berhenti sejenak dapat membantu menurunkan respons emosional dan meningkatkan kontrol diri.

Blibli mengemas pendekatan ini melalui fitur sederhana seperti aktivitas mindful dan gamification di microsite JEDA.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa edukasi tidak harus kompleks. Aktivitas sederhana dapat menghasilkan dampak yang signifikan jika dilakukan secara konsisten.

Industri digital selama ini berfokus pada kecepatan dan efisiensi. Platform berlomba mempersingkat proses agar pengguna dapat mengambil keputusan lebih cepat.

Namun, pendekatan ini memunculkan konsekuensi baru. Keputusan yang terlalu cepat meningkatkan risiko kesalahan dan kerugian.

JEDA menawarkan perspektif berbeda. Jeda singkat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas keputusan tanpa mengorbankan pengalaman pengguna.

Pendekatan ini berpotensi menjadi standar baru dalam pengembangan layanan digital, terutama dalam konteks perlindungan konsumen.

Blibli menempatkan JEDA sebagai langkah sederhana dengan dampak luas. Kebiasaan berhenti selama 10 detik dapat membantu pengguna menghindari keputusan impulsif.

Di tengah meningkatnya risiko digital, kemampuan untuk menahan respons menjadi keterampilan penting. JEDA menunjukkan bahwa solusi tidak selalu kompleks.

Keputusan yang lebih baik dimulai dari jeda singkat sebelum bertindak.

Bagus Arthakusuma

Bagus Arthakusuma

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Untuk Kamu

FinTech & App Tech & AI

SiteMinder Luncurkan Dynamic Revenue Plus untuk Hotel

BagusTech – Industri perhotelan bergerak cepat, dan waktu sering kali menjadi faktor penentu antara peluang dan kerugian. Untuk membantu hotel
E-Vehicle Tech & AI

Strategi Pabrikan EV China Hadapi Pemangkasan Insentif Pajak

BagusTech – Mulai tahun 2026, pembelian mobil listrik di China tak lagi bebas pajak sepenuhnya. Pemerintah akan memangkas insentif untuk