Editorial Topic
Review

Review Awal Sony BRAVIA 9 II, 7 II, dan 3 II

6 menit baca
AdvertisementResponsive Banner

Ringkasan Cepat

  • BRAVIA 9 II menawarkan warna paling kaya, HDR paling kuat, dan audio internal terbaik, tetapi harganya mencapai Rp82,99 juta.
  • BRAVIA 7 II menjadi pilihan paling seimbang karena tetap memakai True RGB dengan harga mulai Rp37,99 juta.
  • BRAVIA 3 II tidak menggunakan Mini LED, tetapi menawarkan layar 100 inci, XR Processor, dan refresh rate 120Hz.
  • Ketiganya menyasar kebutuhan berbeda, bukan sekadar menjadi urutan dari model murah ke mahal.

Skor ini merupakan penilaian awal berdasarkan sesi mencoba langsung di kantor Sony Indonesia, bukan pengujian laboratorium atau pemakaian jangka panjang.

Sony resmi menghadirkan BRAVIA 9 II, BRAVIA 7 II, dan BRAVIA 3 II di Indonesia. Ketiganya sama-sama membawa nama BRAVIA, tetapi teknologi layar, target pengguna, dan rentang harganya berbeda cukup jauh.

BRAVIA 3 II tersedia dalam ukuran 65, 75, 85, dan 100 inci dengan harga mulai Rp16.499.000. BRAVIA 7 II hadir dalam ukuran 65, 75, dan 85 inci mulai Rp37.999.000. Sementara BRAVIA 9 II hanya tersedia dalam ukuran 85 inci dengan harga Rp82.999.000.

Dalam sesi review awal ini, kami mencoba varian terbesar yang tersedia di Indonesia, yaitu BRAVIA 3 II 100 inci, BRAVIA 7 II 85 inci, dan BRAVIA 9 II 85 inci. Sony sudah menyiapkan ruangan, pencahayaan, dan konten demonstrasi, sehingga hasil ini lebih menggambarkan impresi awal daripada penilaian final.

Spesifikasi Sony BRAVIA 9 II, 7 II, dan 3 II

SpesifikasiBRAVIA 9 IIBRAVIA 7 IIBRAVIA 3 II
Ukuran Indonesia85 inci65, 75, 85 inci65, 75, 85, 100 inci
Teknologi layarTrue RGB LEDTrue RGB LEDDirect LED
Refresh rateHingga 120HzHingga 120HzHingga 120Hz
ProcessorXR ProcessorXR ProcessorXR Processor
BacklightRGB Backlight Master Drive ProRGB Backlight Master Drive ProDirect LED, tanpa local dimming
Teknologi warnaRGB Triluminos MaxRGB Triluminos MaxXR Triluminos Pro
Kontras dan brightnessXR Contrast Booster 40, Luminance Booster ProXR Contrast Booster 20, Luminance BoosterDynamic Contrast Enhancer
Lapisan layarImmersive Black Screen Pro, X-Wide Angle ProX-Wide Angle ProStandar
AudioAcoustic Multi-Audio+, up-firing beam tweetersAcoustic Multi-Audio+, Voice Zoom 3X-Balanced Speaker
Format gambar dan audioDolby Vision, Dolby Atmos, DTS, IMAX EnhancedDolby Vision, Dolby Atmos, DTS, IMAX EnhancedDolby Vision, Dolby Atmos, DTS:X
Gaming4K 120Hz, VRR, ALLM, Game Menu4K 120Hz, VRR, ALLM, Game Menu4K 120Hz, VRR, ALLM, Game Menu
Port4 HDMI, 2 USB, Ethernet, RF, optical/S-Center; 4K 120Hz dan VRR di HDMI 3–4, eARC di HDMI 34 HDMI, 2 USB, Ethernet, RF, optical/S-Center; 4K 120Hz dan VRR di HDMI 3–4, eARC di HDMI 34 HDMI, 2 USB, Ethernet, RF, optical audio; 4K 120Hz, VRR, dan ALLM, eARC di HDMI 3
Sistem operasiGoogle TVGoogle TVGoogle TV
Harga IndonesiaRp82.999.000Mulai Rp37.999.000Mulai Rp16.499.000

Spesifikasi ukuran dan harga mengikuti informasi resmi Sony Indonesia. Konfigurasi audio dapat berbeda berdasarkan ukuran layar.

BRAVIA 9 II: Flagship True RGB Dari Sony

BRAVIA 9 II jelas menjadi bintang utama dalam lini terbaru Sony. Layarnya bukan hanya terang, tetapi juga mampu mempertahankan warna ketika tingkat kecerahan meningkat.

Sony menggunakan teknologi True RGB yang mengendalikan sumber cahaya merah, hijau, dan biru secara terpisah. Pendekatan ini berbeda dari Mini LED konvensional yang biasanya menggunakan sumber cahaya biru atau putih, kemudian mengandalkan lapisan tambahan untuk membentuk warna.

Saat kami menontonnya langsung, perbedaannya paling mudah terlihat pada warna-warna cerah. Merah tetap terlihat pekat, biru terasa dalam, sementara bagian terang tidak langsung kehilangan gradasi. Adegan dengan api, lampu neon, pantulan air, dan lanskap berwarna kuat terlihat lebih bervolume.

Efeknya juga tidak terasa seperti mode Vivid yang hanya menaikkan saturasi. Warna memang terlihat kaya, tetapi masih memiliki kontrol. Inilah yang membuat BRAVIA 9 II terasa berbeda dari TV Mini LED yang hanya mengejar angka brightness.

Meski begitu, BRAVIA 9 II belum otomatis mengalahkan OLED. Dalam ruangan gelap, OLED masih unggul karena mampu mematikan setiap piksel secara individual. Warna hitamnya lebih pekat dan tidak memunculkan blooming di sekitar objek terang.

Sony memang berhasil menekan blooming dengan sangat baik. Ketika digunakan di ruang keluarga yang memiliki cahaya sekitar, perbedaan black level dengan OLED juga tidak terlalu mengganggu. Immersive Black Screen Pro membantu mengurangi pantulan sekaligus menjaga gambar tetap terlihat kuat.

Audionya ikut menonjol. Acoustic Multi-Audio+ membuat suara dialog dan efek terasa lebih dekat dengan posisi objek di layar. Soundbar masih akan memberikan bass lebih dalam, tetapi speaker bawaannya sudah lebih dari cukup untuk penggunaan biasa.

Masalah terbesar BRAVIA 9 II tentu harganya. Dengan banderol Rp82,99 juta, TV ini masuk ke wilayah yang sangat premium. Konektivitas gaming-nya juga terasa kurang fleksibel karena hanya HDMI 3 dan HDMI 4 yang mendukung 4K 120Hz dan VRR, sementara HDMI 3 juga digunakan sebagai eARC.

BRAVIA 7 II: True RGB Yang Lebih Terjangkau

BRAVIA 7 II memakai fondasi teknologi yang sama seperti BRAVIA 9 II. TV ini masih membawa True RGB, RGB Backlight Master Drive Pro, RGB Triluminos Max, dan XR Processor.

Ketika dilihat langsung, karakter warnanya tetap terasa khas. Gambar terlihat hidup, tetapi tidak sampai berlebihan. Kedalaman gambar juga terasa lebih baik dibandingkan Mini LED biasa, terutama ketika layar menampilkan objek terang di atas latar yang lebih gelap.

Perbedaan dengan BRAVIA 9 II baru terlihat ketika keduanya menampilkan konten HDR yang lebih menantang. Highlight pada BRAVIA 9 II terlihat lebih kuat, sedangkan warna di area terang terasa lebih padat. BRAVIA 7 II tetap cerah dan menarik, tetapi efeknya tidak sedramatis model flagship.

Black level-nya juga tergolong baik untuk televisi LCD. Blooming relatif terkendali apabila TV dilihat dari depan. Namun, BRAVIA 7 II tetap lebih cocok untuk ruang keluarga dibandingkan ruangan home cinema yang gelap total.

Desain Mirage Stand memberikan kesan layar seolah melayang sekaligus membantu menyembunyikan kabel. Materialnya tidak semewah BRAVIA 9 II, tetapi secara keseluruhan tetap terlihat premium.

Dengan harga mulai Rp37,99 juta, BRAVIA 7 II memang belum bisa disebut murah. Namun, model ini membawa sebagian besar daya tarik True RGB tanpa harga setinggi BRAVIA 9 II. Dari ketiganya, model inilah yang terasa paling seimbang antara kualitas gambar, ukuran, fitur, dan harga.

BRAVIA 3 II: Menang besar lewat ukuran 100 inci

BRAVIA 3 II datang dengan pendekatan lebih sederhana. TV ini tidak memakai True RGB atau Mini LED, melainkan Direct LED tanpa local dimming.

Secara kualitas panel, posisinya memang tidak setara BRAVIA 7 II dan BRAVIA 9 II. Namun, model 100 inci mempunyai senjata yang sulit diabaikan: ukuran layar yang sangat besar.

AdvertisementIn-Article Banner

Begitu konten mulai diputar, layar sebesar itu langsung memberikan sensasi berbeda. Film terasa lebih sinematik, pertandingan olahraga terlihat lebih seru, dan game terasa jauh lebih imersif.

Sony juga menyematkan XR Processor yang sebelumnya lebih identik dengan model premium. Hasilnya terlihat pada warna yang natural, skin tone yang relatif konsisten, serta sharpening yang tidak berlebihan.

TV ini mungkin tidak langsung memberikan efek “wow” dari sisi kontras atau brightness. Namun, setelah dipakai menonton lebih lama, karakter gambarnya terasa nyaman. Konten YouTube, tayangan SDR, dan video dengan kualitas sumber kurang sempurna masih terlihat cukup bersih.

Review 91mobiles juga menyoroti performa SDR, akurasi warna, dan kemampuan upscaling BRAVIA 3 II. Media tersebut mencatat cakupan Rec.709 sebesar 99,8 persen pada unit yang diuji.

Keterbatasannya paling mudah terlihat pada adegan gelap. Tanpa local dimming, warna hitam terlihat lebih abu-abu dan gambar kehilangan sedikit kedalaman. Dolby Vision memang tersedia, tetapi efek HDR-nya tidak sekuat dua model True RGB.

Di sisi lain, dukungan 120Hz, 4K 120Hz, VRR, ALLM, dan Game Menu membuatnya cukup menarik untuk pengguna konsol. Hanya saja, model 100 inci membutuhkan ruangan serta jarak menonton yang memadai.

Jadi, Sony BRAVIA mana yang layak dipilih?

BRAVIA 9 II cocok untuk pengguna yang menginginkan kualitas LCD terbaik dari Sony dan tidak terlalu memikirkan harga. Ia mempunyai warna paling kaya, HDR paling kuat, dan audio internal terbaik di antara ketiganya.

BRAVIA 7 II menjadi pilihan yang paling rasional. Kualitas gambarnya masih sangat kuat, teknologi True RGB tetap terasa, dan harganya tidak setinggi model flagship. Untuk sebagian besar pembeli TV premium, model inilah yang paling masuk akal.

BRAVIA 3 II menyasar kebutuhan yang berbeda. TV ini lebih cocok untuk pengguna yang mengutamakan ukuran layar, olahraga, streaming, dan bermain game. Black level serta HDR memang bukan kekuatan utamanya, tetapi layar 100 inci menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan hanya dengan brightness lebih tinggi.

Berdasarkan review awal kami, BRAVIA 7 II menjadi pilihan paling seimbang, BRAVIA 9 II menawarkan kualitas gambar paling impresif, sedangkan BRAVIA 3 II unggul lewat layar besar dan penggunaan sehari-hari yang lebih fleksibel.