BagusTech – Ubayy Tsany Galiadupda menjadi salah satu penerima beasiswa vivo NexGen Scholars yang menunjukkan bagaimana akses pendidikan teknologi dapat mendorong lahirnya solusi digital untuk masyarakat. Ia pernah gagal dalam mengembangkan proyek berbasis machine learning, tetapi proses tersebut justru membawanya untuk terus belajar hingga mampu membuat chatbot berbasis AI yang dimanfaatkan oleh pelaku UMKM.
Kisah Ubayy memberi wajah yang lebih konkret pada isu besar pengembangan talenta digital di Indonesia. Di tengah kebutuhan sumber daya manusia teknologi yang terus meningkat, pengalaman mahasiswa seperti Ubayy menunjukkan bahwa talenta digital tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari proses mencoba, gagal, mengevaluasi, dan membangun ulang solusi yang lebih relevan.
vivo Indonesia mengangkat kisah tersebut melalui program vivo NexGen Scholars, inisiatif beasiswa yang berjalan sejak 2025. Program ini hadir dalam momentum Hari Pendidikan Nasional sebagai bagian dari komitmen vivo untuk memperluas akses pendidikan tinggi di bidang sains dan teknologi bagi generasi muda Indonesia.
Baca Juga
- vivo X300 Ultra Bakal Gebrak Indonesia, Bawa Kamera ZEISS 200MP
- vivo NexGen Scholars Turut Siapkan Talenta Digital
- Perbedaan vivo T5 dan T5 Pro 5G, Ini Detail Lengkapnya
Dari Kegagalan Machine Learning ke Chatbot AI
Perjalanan Ubayy di bidang teknologi tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat menghadapi kegagalan saat mengembangkan proyek berbasis machine learning. Namun, pengalaman tersebut tidak menghentikan minatnya untuk terus mengeksplorasi teknologi.
Melalui proses belajar yang berkelanjutan, Ubayy kemudian mengembangkan solusi teknologi lain berupa chatbot berbasis AI. Solusi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku UMKM, sehingga teknologi yang ia bangun tidak berhenti sebagai eksperimen akademik, tetapi juga menyentuh kebutuhan nyata di masyarakat.
Kisah ini menjadi penting karena AI sering muncul sebagai topik besar dalam industri teknologi, tetapi penerapannya di tingkat pengguna kecil seperti UMKM masih membutuhkan banyak talenta muda yang mampu memahami masalah lapangan. Ubayy menunjukkan bahwa mahasiswa teknologi dapat mengambil peran dalam ruang tersebut ketika mereka mendapat akses belajar dan kesempatan mengembangkan kemampuan.
Dalam konteks vivo NexGen Scholars, pengalaman Ubayy memperlihatkan fungsi beasiswa yang lebih luas. Program ini tidak hanya membantu mahasiswa menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk membangun portofolio, mengasah ketekunan, dan mencoba menyelesaikan persoalan melalui pendekatan teknologi.
vivo NexGen Scholars Buka Akses Pendidikan Teknologi
vivo NexGen Scholars merupakan program beasiswa dari vivo Indonesia yang memberikan 60 beasiswa penuh kepada mahasiswa terpilih. Para penerima beasiswa masuk melalui jalur SNBP dan SNBT untuk menempuh pendidikan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya atau PENS.
vivo menjalankan program ini bersama Hoshizora Foundation dan PENS. Kolaborasi tersebut menghubungkan dukungan perusahaan teknologi, pendampingan pendidikan, dan institusi akademik dalam satu ekosistem. Tujuannya jelas, yakni membuka akses pendidikan tinggi sekaligus menyiapkan mahasiswa agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Public Relations Director vivo Indonesia, Arga Simanjuntak, mengatakan vivo ingin memastikan generasi muda tidak hanya memperoleh akses pendidikan, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami melihat pentingnya memastikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki akses terhadap pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui vivo NexGen Scholars, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi mereka untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan ke depan. Momentum seperti Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bagi kami untuk terus memperkuat komitmen tersebut,” ujar Arga.
Pernyataan itu menegaskan bahwa vivo NexGen Scholars tidak berdiri sebagai program bantuan biaya kuliah semata. Program ini juga menempatkan pengembangan keterampilan sebagai bagian penting dari kesiapan mahasiswa menghadapi industri teknologi.
Indonesia Masih Kekurangan Talenta Digital
vivo NexGen Scholars hadir di tengah kebutuhan besar Indonesia terhadap talenta digital. Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030. Saat ini, jumlah talenta digital nasional masih berada di kisaran 6 juta orang.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu mempercepat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi. Tantangannya tidak hanya soal jumlah, tetapi juga soal kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri.
Siaran pers vivo juga menyoroti persoalan tingginya angka pengangguran lulusan vokasi, termasuk SMK. Kondisi ini muncul akibat kesenjangan keterampilan dan terbatasnya akses terhadap peluang kerja yang relevan. Dalam situasi seperti ini, program yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri menjadi semakin penting.
Kisah Ubayy menjadi relevan dalam konteks tersebut. Ketika mahasiswa mampu mengembangkan chatbot AI untuk UMKM, ia tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pendidikan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil pelaku usaha.
Enam Bidang Strategis Jadi Fokus Program
vivo NexGen Scholars berfokus pada enam bidang strategis yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Keenam bidang tersebut mencakup Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.
Bidang-bidang tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan perkembangan industri digital. Teknik Informatika dan Sains Data Terapan berhubungan dengan pengembangan perangkat lunak, pengolahan data, dan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Teknik Elektronika, Telekomunikasi, dan Elektro Industri berkaitan dengan infrastruktur teknologi serta sistem industri modern. Teknologi Game juga semakin relevan dengan pertumbuhan industri kreatif digital.
Dengan fokus tersebut, vivo NexGen Scholars mengarahkan mahasiswa ke jalur keahlian yang memiliki hubungan dekat dengan kebutuhan industri. Program ini tidak hanya membuka pintu kuliah, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat teknologi secara lebih terarah.
Penerima Beasiswa Datang dari Berbagai Latar Belakang
Selain Ubayy, vivo juga menyoroti sejumlah penerima beasiswa lain dari berbagai daerah. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan dalam hal semangat belajar dan minat pada teknologi.
Evan Eka Kurniawan asal Banyuwangi, Jawa Timur, tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ibunya menjadi orang tua tunggal dan menjalankan usaha sebagai pedagang kopi eceran dengan penghasilan tidak tetap. Kini, Evan menjadi salah satu mahasiswa dengan capaian akademik tertinggi di program vivo NexGen Scholars. Ia mencatat IPK 3,9, aktif mengembangkan aplikasi, mengikuti kegiatan di bidang teknologi game, dan berpartisipasi dalam berbagai lomba kompetensi.
“Beasiswa ini membuat saya bisa lebih fokus belajar dan mengembangkan kemampuan. Saya ingin suatu hari bisa membangun game yang tidak hanya menghibur, tapi juga membawa dampak positif,” ujar Evan.
Zahra Adientya Putri, mahasiswa Teknologi Game asal Tulungagung, juga menjalani pendidikan di tengah kondisi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Kedua orang tuanya bekerja dengan penghasilan terbatas. Meski begitu, Zahra tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri di kampus, termasuk komunitas dan proyek di bidang game.
“Program ini membantu saya untuk tetap bisa kuliah tanpa membebani orang tua. Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Zahra.
Kisah lain datang dari Izzal Maula Al Faqiih asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia harus melewati kehilangan ibunya dan beradaptasi sebagai mahasiswa perantau. Saat ini, Izzal menempuh pendidikan di bidang Teknik Informatika dan aktif mengembangkan minat di bidang teknologi melalui organisasi serta proyek.
“Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berkembang dan membuka peluang yang lebih besar ke depan,” ujar Izzal.
Dari Kalimantan Tengah, Arkan Maulana Rizki membawa perjalanan yang tidak sederhana. Ia pernah mengalami perundungan dalam waktu yang cukup lama sejak masa sekolah dan menghadapi berbagai keterbatasan hidup. Kini, Arkan menempuh pendidikan di bidang Teknik Elektronika, aktif mengikuti kegiatan pengembangan diri di kampus, dan memiliki minat untuk berkontribusi di bidang teknologi energi.
“Saya ingin suatu hari bisa membangun sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain,” ujar Arkan.
Hoshizora Foundation Catat Dampak Awal
Executive Director Hoshizora Foundation, Yudi Anwar, mengatakan vivo NexGen Scholars sejalan dengan misi yayasan untuk membantu anak-anak menemukan mimpi dan meraihnya melalui pendidikan yang layak.
“Program vivo NexGen Scholars sejalan dengan misi kami untuk menginspirasi setiap anak dalam menemukan mimpi dan membantu mereka meraihnya melalui pendidikan yang layak. Melalui program ini, 60 mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa terhalang biaya, sekaligus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi sesuai dengan jurusan yang mereka ambil,” jelas Yudi.
Menurut Yudi, program ini mulai menunjukkan dampak dari sisi akses pendidikan dan pengembangan kemampuan mahasiswa. Rata-rata IPK mahasiswa pada semester awal mencapai 3,41, dengan nilai tertinggi hingga 3,9. Para mahasiswa juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan, seperti organisasi, kompetisi, dan komunitas.
Yudi juga menilai bidang studi para penerima beasiswa memiliki relevansi dengan kebutuhan industri digital. Jurusan seperti Teknik Informatika, Elektronika, hingga Teknologi Game berkaitan langsung dengan kebutuhan tersebut.
“Kebutuhan industri di bidang teknologi digital terus meningkat. Jurusan para penerima beasiswa seperti Teknik Informatika, Elektronika, hingga Teknologi Game sangat berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Ini menjadi sinyal awal yang positif bahwa program ini dapat mendukung kesiapan talenta muda untuk terjun ke dunia kerja,” jelasnya.
AI untuk UMKM dan Arah Baru Talenta Digital
Kisah Ubayy menunjukkan bahwa pengembangan talenta digital perlu bergerak lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. AI tidak lagi hanya menjadi teknologi yang dibahas di tingkat perusahaan besar atau laboratorium riset. Di tangan mahasiswa yang mendapat akses pendidikan dan ruang eksplorasi, teknologi seperti chatbot AI dapat diarahkan untuk membantu pelaku UMKM.
vivo NexGen Scholars menjadi bagian dari upaya tersebut dengan membuka akses pendidikan bagi mahasiswa di bidang teknologi. Program ini memang tidak dapat langsung menutup seluruh kebutuhan talenta digital Indonesia. Namun, kisah Ubayy memperlihatkan bahwa satu kesempatan belajar dapat berkembang menjadi solusi yang menyentuh persoalan nyata.
Di tengah kebutuhan 9 juta talenta digital pada 2030, Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menerapkannya untuk masyarakat. Dari kegagalan machine learning hingga chatbot AI untuk UMKM, perjalanan Ubayy memberi gambaran bahwa talenta digital masa depan akan lahir dari kombinasi akses pendidikan, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba.

